Panduan budidaya cacing sutra pdf

Morfologi Cacing Tubifex memiliki beberapa nama sesuai dengan ciri yang dimilikinya. Misalnya cacing ini disebut cacing merah atau cacing rambut atau cacing sutera. Disebut cacing merah karena sekujur tubuhnya berwarna merah, disebut cacing rambut karena bentuknya menyerupai rambut dengan panjang 2-3 cm, meskipun pernah ditemukan yang panjangnya 20 cm, dan dikenal sebagai cacing sutera mungkin karena selembut sutera. Tubuh cacing Tubifex beruas-ruas. Cacing ini memiliki saluran pencernaan. Mulutnya berupa celah kecil, terletak di daerah terminal. Saluran pencernaannya berujung pada anus yang terletak pada bagian sub-terminal.

3.

Habitat dan Sifat Cacing Tubifex banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bahan-bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Cacing ini akan membenamkan kepalanya masuk ke dalam lumpur untuk mencari makanan. Sementara ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan dasar untuk bernafas. Perairan yang banyak dihuni oleh cacing ini sepintas tampak seperti koloni lumut merah yang melambai-lambai. Kebiasaan makan dan cara makan cacing rambut ialah memakan detritus, alga benang, diatom atau sisa-sisa tanaman yang terlarut di lumpur dengan cara cacing membuat lubang berupa tabung dan menyaring makanan atau mengumpulkan partikel-partikel lumpur yang dapat dicerna di dalam ususnya.

Universitas Gadjah Mada

1

Cacing Tubifex tumbuh optimal pada suhu 18 - 20 °C. Pada suhu di atas 35°C cacing ini mati dan pada suhu dibawah 5°C dalam keadaan tidak aktif. Seperti biota air lain, cacing Tubifex membutuhkan oksigen untuk pernafasannya. Oksigen optimum untuk hidup dan berkembang biak adalah 3-8 ppm. Cacing Tubifex adalah hewan air tawar sehingga sangat peka terhadap perubahan salinitas. Cacing Tubifex tidak menyukai sinar, sehingga mudah ditemukan pada tempat-tempat yang teduh. B)

Penggunaan Cacing Rambut (Tubifex sp.) Sebagai pakan ikan hias air tawar, cacing ini mempunyai peranan yang cukup penting. Pakan dari cacing mampu memacu pertumbuhan ikan jauh lebih cepat dibanding pakan alami jenis lainnya. Hal ini disebabkan kandungan lemak dan protein cacing ini cukup tinggi. Cacing ini mempunyai kandungan protein 51,9 %, karbobidrat 20,3 %, lemak 22,3 %, dan bahan abu 5,3 %. Sedangkan asam amino penyusun proteinnya juga lengkap. Nama Asam Amino

Kandungan %

Glisin (Gly)

4,5

Alanin (Ala)

5,4

Valin (Val)

6,4

Leusin (Len)

11,5

lsoleusin (Ile)

5,1

Prolin (Pro)

5,6

Phenilalanin (Phe)

4,6

Tyrosin (Tyr)

3,9

Triptofan (Trp)

1,4

Serin (Ser)

4,2

Threonin (Thr)

5,3

Metionin (Met)

2,5

Arginin (Arg)

8,9

Histidin (His)

2,8

Lysin (Lys)

8,1

Aspartat (Asp)

12,8

Glutamin (Glu)

11,5

Universitas Gadjah Mada

2

Jenis-jenis ikan hias yang mengkonsumsi cacing ini adalah ikan diskus, koki, platy, guppy, maanvis, cupang dan jenis ikan lain. Selain itu, benih ikan konsumsi seperti lele, gurami, karper, dan nila juga menyukainya. Pemberian cacing tubifex pada ikan

dewasa

harus

dikendalikan

karena

pemberian

yang

berlebihan

dapat

menyebabkan obesitas atau kegemukan. Kegemukan pada ikan menyebabkan ikan menjadi susah untuk bertelur bagi induk betina karena saluran kelamin ikan tertutup oleh lemak. Cacing tubifex dapat diberikan secara langsung dalam keadaan segar sebagai makanan tambahan bagi ikan atau dalam keadaan beku. Cacing dalam keadaan beku masih mempunyai nutrisi yang sama dengan keadaan segar. C)

Budidaya 1.

Bak Pemeliharaan dan Media Budidaya Bak untuk pemeliharaan Tubifex dapat berupa parit beton atau wadah yang dilapisi plastik. Bak tempat membudidayakan cacing Tubifex dapat dibuat dengan ukuran yang bervariasi, mulai dan 1,5 - 10 m2. Bak budidaya untuk cacing rambut terdiri dan bak penampungan air, lapisan air, lapisan tanah, saluran pemasukan air, saluran irigasi. Berikut ini kontruksi bak budidaya cacing Tubifex :

Gambar 27. Bak budidaya Cacing Rambut Keterangan : 1. Bak penampungan air 2. Lapisan air 3. Lapisan tanah 4. Saluran irigasi 5. Saluran pemasukan air Media yang digunakan adalah campuran antara kotoran ayam segar / dedak halus sebanyak 50 % dan lumpur sebanyak 50 % dengan tinggi media 5 cm. Universitas Gadjah Mada

3

2.

Bibit Perkembangbiakan cacing rambut dapat dilakukan secara pemutusan ruas tubuh dan pembuahan secara hemaphrodit. Telur cacing rambut terjadi di dalam kokon, yaitu suatu bangunan yang berbentuk bulat telur, panjang 1,0 mm dan garis tengahnya 0,7 mm. Kokon dibentuk oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya yang disebut kitelum. Telur yang ada di dalam kokon akan mengalami pembelahan menjadi morula. Selanjutnya embrio akan berkembang menjadi 3 segmen, kemudian berkembang menjadi beberapa segmen. Setelah beberapa hari, embrio akan keluar melalui ujung kokon secara enzimatis. Perkembangan embrio dari telur hingga meninggalkan kokonnya memakan waktu 10 - 12 hari, dan optimal pada suhu 24 °C. Setelah meninggalkan kokon, cacing rambut pertama kali menghasilkan kokon setelah berumur 40 - 45 hari. .Jadi daur hidup cacing rambut dari telur hingga menetas dan

menjadi

dewasa

serta

mengeluarkan

kokon

membutuhkan

waktu

50 - 57 hari.

3.

Teknik Budidaya Budidaya cacing rambut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a.

Persiapan pertama untuk budidaya cacing rambut adalah persiapan bak pemeliharaan. Mula-mula bak dikeringkan, kemudian ditaburi dengan media budidaya.

b.

Perbandingan media yang digunakan adalah kotoran ayam segar / dedak halus sebanyak 50 % dan Lumpur sebanyak 50 % dengan tinggi media 5 cm. Pemupukan ulang dilakukan setiap minggu dengan menggunakan kotoran ayam atau dedak halus sebanyak 9 %.

c.

Bak pemeliharaan cacing rambut kemudian dialiri air dengan debit 900 menit.

d.

Bibit cacing rambut ditebar sehari sesudah media kultur dialiri air. Penebaran bibit dimulai dengan membuat lubang kecil-kecil di atas petakan. Jarak antar lubang 10 - 15 cm. Lubang ini diisi dengan koloni bibit cacing ± 10 ekor / lubang.

e.

Bak pemeliharaan cacing rambut dialiri air setiap saat dengan debit kecil (ada aliran air). Aliran air ini berfungsi untuk menjaga kualitas air.

f.

Hal lain yang perlu dikontrol adalah konsentrasi amoniak (NH3) dalam air. Gas beracun ini biasanya dihasilkan dari proses pembusukan bahan organik, terutama kotoran ayam. Konsentrasi NH3 yang terlalu tinggi dapat Universitas Gadjah Mada

4

mengakibatkan kematian massal cacing rambut. Oleh karena itu, aliran air yang kecil diperlukan untuk membuang gas NH3. g.

Masa pemeliharaan cacing rambut sekitar 2 minggu. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit cacing rambut akan berkembang dengan cepat.

h.

Pemanenan cacing rambut dilakukan setelah 2 bulan pemeliharaan dan dapat dipanen setiap hari dengan metode panen acak.

i.

Pemanenan dilakukan dengan menggunakan serokan dari terilin. Cacing rambut yang didapat dan masih bercampur dengan media budidaya dimasukkan ke dalam ember atau bak yang diisi air, kira-kira 1 cm di atas media budidaya agar cacing rambut naik ke permukaan. Ember ditutup hingga bagian dalam menjadi gelap dan dibiarkan selama 6 jam. Setelah itu cacing yang menggerombol diambil dengan menggunakan tangan.

j.

Dengan cara ini diperoleh cacing tubifex sebanyak 30 - 50 g / m2 per 2 minggu.

Universitas Gadjah Mada

5

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1990 b. Japan Food Research Laboratories, Sertifikat Analisis tanggal 22-8-1990 No: 43080157-005. Ashton, P. J., 1974. The orange refer program report. (Ed. E. M. Zinderen-Bakker), Bloemfoentein, pp. 123-138. Bierhorst, D. W., 1971. The morphology of vascular plants, Salviniales. Pp. 341-349. MacMillan, New York. Bortel, H., 1930. Uber die bedutung des molybdaus fur sticsoff bin decade Nostocaceen Arch. Microbiol. 11:155-186. In Khan, M. M., 1983. A primer Azolla production and utilization in agriculture. UPLB-PCARRD-SEARCA Chu, L. C., 1979. Use of Azolla in rice production in China. Nitrogen and rice, IRRI. Dhert, Ph., Schoeters, K., Venneulen, P., Sun, J., Gao, S., Shang, Z. and Sorgeloos, P. 1995. Production and evaluation of resting eggs of Brachionus plicatilis originating from the P.R. of China. In: Lavens, P.; E. Jaspers and I. Roelants (Eds.), Larvi'95 Fish and Shellfish Larviculture Symposium. European Aquaculture Society, Special Publication, Gent, Belgium, 24:315-319. Diaz, R.J. 1980. Ecology of Tidal Freshwater and Estuarine Tubyicidae (Oligochaeta). Aquatic Oligochaete Biology. Plenum Press, New York. Espinas, C. R., N. S. Berja, D. C. del Rosario and I. Watanabe, 1979. Environmental conditions affecting Azolla growth. IRRI Saturday seminar, June 16, 1979. Fogg, G. E., W. D. P. Stewart, P. Fay and A. E. Walsy, 1973. The blue green algae. Academic Press London and New York. Godfrey, R. K., G. W. Reinert, and R. D. Huke, 1961. Observation on microsporocarpic materials of,4zolia caroliniana, Amer. Fern J. 51:89-92. Guerrero III, R. D. and C. T. Villegas, 1982. Report of the Training Course on Growing Food Organisme for Fish Hatcheries. South China Sea Fisheries Development and Coordinating Programme, Manila. Philioines. Hagiwara, A., Balompapueng, M.D. and Hirayama, K. 1995. Mass production and preservation. of marine rotifer resting eggs. Page 314. In: Lavens, P.; E. Jaspers and I. Roelants (Eds.), Larvi'95 Fish and Shellfish Larviculture Symposium. European Aquaculture Society, Special Publication, Gent, Belgium, 24:314. Hills, C., dan Nakamura, 1978. Food from Sunlight. World Hunger Research Project, University of the Trees Press, Boulder Creek, California 95006. Hirayama, K. 1987. A consideration of why mass culture of the rotifer 1-31-achirmil.s. plicatilis with baker's yeast is unstable. Hydrobiologia, 147:269-270. Hirata, H. 1979. Rotifer culture in Japan. In: Styczynska-Jurewicz, E.; T. Backiel; E. Jaspers and G. Persoone (Eds), Cultivation of fish fry and its live.fbod. European Mariculture Society, Special Publication, 4:361-375.

Universitas Gadjah Mada

6

Jensen, B., 1987. Chlorella Gem of the Orient, theDinarnyc Food Discovery for Health and Healing. First Edition. Bernard Jensen, Route 1, Box 52, Escondido, California 92025 ISBN 0-932615-02-3 Johnson, G. V., P. A. Mayeux and H. J. Evans, 1966. A cobalt requirement of stomata in some leptosporangiate fern. Ann. Bot. (London) 35:641-651. Kamiso, H. N., Triyanto, B. Triatmodjo, Nizam, Supardjo, S. D., P. Suharsono, Suadi, Soeparno, E. Setyabudi, H. Bilowo, H. Saptono, T. L. Harysantoso dan F. Umiyati, 2000. Studi Rencana Pembangunan Pelabuhan Perikanan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Akhir. Pustek Kelantan UGM dengan Dinas Perikanan DIY. Khan, M. M., 1983. A primer on Azolla production and utilization in agiculture. UPLBPCARP,D-SEARCA. Kollar, R. N. and R. K. Kapoor, 1974. Anatomical studies on .,4wila pinnata. Phytomorphology 22:211-213. Lubzens, E. 1987. Raising rotifers lbr use in aquaculture. Hydrobiologia, 147:245-255. Liunpkin, T. A. and D. L. Plucknett, 1980. Azolla : Botany, tisiologi and use as a green manual. Economic botany 34(2) 111-153. Marian, M.P., T.J. Pandian. 1984. Culture and Havesting Techniques for Tubilex tubilex. Aquaculture, 42: 303-315 Nakamura, H., 1963. Biological Knowledge on Species of Chlorella and Scenedesmus. Dalam Hilts and Nakamura, 1978. Food From Sunlight University of The Trees Press, Boulder Creek CA 95006. Singh, P. K., 1977b. Azolla plants as fertilizer and feed. Indian farming 27:19-22. Singh, P. K.,, 1979. Use of Azolla in rice production in India. Nitrogen and rice, IRRI. Smith, G., 1955. Cryptowunic botany (Bryophytes and Pterydophytes) Vol. II sec. ed. McGraw-liill, New York. Stein, J. R. 1973. Handbook of Phycological Methods and Growth Measurements, Cambridge Univ. Press. Strasburger, E., 1g73. Ueber Azoll. Verlag vor Ambr. Abel. Jena. Leipsig. In Khan, M. M., 1983. A primer Azolla production and utilization in agriculture. l TPLBPCARRDSEARCA Svenson, H. K., 1944. The new world species of Azolla. Amer. Fern. J. 34:69-85. Talley, S. N., B. J. Talley and D. W. Rains, 1977. Nitogen fixation by Azolla on rice fields. In Alexander Itollaender ed. Genetic engineering for nitrogen fixation 259-281. Plenum Press, New York and London.

Universitas Gadjah Mada

7

Thuyet, T. Q. and D. T. Tuan, 1974. Azolla a green compos. Vietnamese studies 38, Agric. Problems, Agronomy. Data 4:119-127. Tieu, N. C., 1930. The Azolla plant. cultivated for use as a fertilizer (in French) Bull. Econ. Indochina (Hanoi) 33:335-350. B. English translation available at IRRI. Titan, D. T. and T. Q. lliuyet, 1979. Use of Azolla in rice production in Vietnam. Nitrogen anfd rice, MM. Villegas, C. T., 1981. Culture and Screening of Food Organisms as Potential Larval Food for Finfish and Shellfish. Tigbana Research Station, SEADEG Aquaculture Department, Harlow,. Philipines. Watanabe, I. , N. S. Berja and D. C. del Rosario, 1980. Growth of Azolla in paddy field as affected by phosporus fertilizer. Soil Sci. Plant. Nur. 26, 301-307. Yatazawa, M., N. Tomomatsit, N. Hosada and K. Nunorne, 19S0. Nitrogen fixation in AzollaAnabaena svmbiosis as affected by mineral nutrient status. Sesil Science Plant Nutrition 26:415-426. Yu, J.P., Hino, A., Hirano, R. and Hirayama, K. 1988. Vitamin R12 producing bacteria as a nutritive complement for a culture of the rolikr Brachium's Nippon Suisan Gakkaishi, 54(11):1873-1880. Yu, J.P., Hino, A., Ushiro, M. and Maeda, M. 1989. Function of bacteria as vitamin B12 producers during mass culture of• the rotifer B. plicatilis. Nippon Suisan Gakkaishi, 55(I0):1799-1806. Yu, J.P., Hino, A., Noguchi and Wakabayashi, H. 1990. Paicity c?f Vihriu alginolylicus on lhe survival of the rotifer Brachionus plicalilis. Nippon Suisan Gakkaishi 56(9):14551460.

Langkah awal budidaya cacing sutra?

Langkah-Langkah BudiDaya Cacing Sutra.
Menyiapkan lahan atau kolam. Budidaya cacing sutra bisa dilakukan memakai kolam, nampan bertingkat, atau menggunakan bak. ... .
Membuat media cacing sutra di kolam. ... .
Penebaran bibit cacing. ... .
Perawatan cacing sutra. ... .
Panen cacing sutra..

Berapa modal untuk budidaya cacing sutra?

Menurut Umar, usaha budidaya cacing sutera tak memerlukan investasi besar. Biaya investasi yang diperlukan hanya sebesar Rp 4,5 juta untuk pembuatan rak kayu dan terpal kolam penampung air, serta pembuatan media budidaya.

Berapa lama cacing sutra berkembang biak?

Setelah meninggalkan kokon, cacing sutra pertama kali menghasilkan kokon setelah berumur 40-45 hari. Jadi daur hidup cacing sutra dari telur hingga menetas membutuhkan waktu 50-57 hari (Suharyadi, 2012). Cacing sutra merupakan hewan yang berkembang biak lewat telur secara eksternal.

Berapa kali pemberian pakan cacing sutra?

Pemberian pakan ampas tahu dilakukan dengan cara menebar secara merata pada permukaan media kultur cacing sutera. Dosis pemberian pakan ampas tahu adalah 2 kg/m2 dengan frekuensi pemberian pakan sehari sekali.