Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang tandus karena perintah

Jakarta,GPriority.co.id – Sebagai ibadah ritual tertinggi yang dicapai umat Rasulullah, ibadah haji memiliki serangkaian tata cara ibadah atau disebut rukun ibadah haji yang syarat akan makna dan simbol yang berkaitan dengan ketaatan dan kedekatan manusia pada Allah SWT.

Salah satu rukun haji dan umroh yang wajib dilaksanakan oleh jamaah adalah Sa’i. Ibadah Sa’i merupakan rukun dalam haji yang dilakukan setelah melaksanakan thawaf dengan berlari–lari kecil di antara Bukit Shafa dan Marwah, berjarak sekitar 405 meter sebanyak tujuh kali. Perintah melaksanakan Sa’i dalam ibadah haji terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 138, artinya:

“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (Al- Baqarah: 158)

Prosesi Sa’i dimulai dari Bukit Shafa. Ketika jamaah berada di Bukit Shafa, hendaknya naik ke atas bukit menuju Marwah dan kemudian mengahadap ke Kabah. Tata cara pelaksanaan ini merupakan bentuk reka ulang peristiwa ketika Siti Hajar mencari air minum dengan berlari kecil di antara Bukit Shafa dan Marwa untuk Nabi Ismail yang sedang kehausan.

Ketika itu, NabiIbrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan istri dan juga anaknya di sebuah gurun yang sangat tandus. Siti Hajar merasa bingung dan sedih atas rencana kepergian Nabi Ibrahim. Namun, setelah mengetahui bahwa ini merupakan perintah Allah SWT, perasaan Siti Hajar menjadi lebih tenang.

Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan istri dan anaknya beserta beberapa perbekalan menuju ke sebuah tempat yang saat ini menjadi Ka’bah. Akan tetapi perbekalan yang diberikan Nabi Ibrahim tersebut lama-kelamaan habis. Siti Hajar yang mulai khawatir karena suaminya belum kembali kemudian berusaha mencari air untuk anaknya.

Siti Hajar yang melihat sebuah bukit, yaitu Bukit Shafa kemudian bergegas mencari air menuju puncak Bukit Shafa, akan tetapi tidak menemukan sumber air. Kemudian ia bergegas turun ke arah Bukit Marwah, namun di sana tidak ada sumber air juga. Pencarian sambil berlari-lari kecil ini terus dilakukan Siti Hajar hingga tujuh kali.

Siti Hajar yang tidak menemukan apapun di kedua tempat sempat merasa putus asa. Namun, suara bisikan malaikan utusan Allah menyuruhnya bersabar. Siti Hajar kemudian mendengar suara gemericik air. Tidak disangka, suara air itu ternyata berasal dari pancaran air yang deras keluar dari dalam tanah di bawah telapak kaki Nabi Ismail, yang kemudian dinamakan dengan air zam zam. 

Dari air tersebut, Siti Hajar memberi minum Ismail hingga waktu berlalu dan serombongan penduduk Suku Jurham datang dan berdiam di sekitar sumber air zam zam atas seizing Siti Hajar. Hingga saat ini, air zam-zam tidak pernah kering. Dari sini kemudian menjadi cikal bakal Kota Mekah yang berkembang dan tempat dilaksanakan ibadah haji dan umroh oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia.

Makna Ibadah Sa’i
Alquran surah Al-Baqarah ayat 158 yang tertulis di atas dimulai dengan penegasan Allah tentang Shafa dan Marwah. Dalam ayat Al-Baqarah157, Allah memberikan gambaran tentang ciri-ciri orang beriman yakni jika mereka ditimpa suatu musibah, mereka mengucapkan kalimah istirja atau Inna Lillahi wa Inna ilaihi Raaji’un. Orang-orang yang mengucapkan kalimah inilah (ketika mereka tertimpa musibah), mereka mendapatkan barokah dan rahmat dari Allah.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 158 tertulis bahwa Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar Allah. Kata syi’ar seakar dengan kata syu’ur yang berarti rasa, yakni tanda-tanda agama dan ibadah yang ditetapkan Allah. Tanda-tanda itu dinamai syi’ar karena ia seharusnya menghasilkan rasa hormat dan agung kepada Allah SWT.

Sebelumnya, kaum muslim ragu untuk melaksanakan sa’i. Sebab, praktik sa’i mirip seperti dilakukan oleh kaum musyrikin dalam tata cara penyembahan berhala. Untuk menghilangkan keraguan tersebut, ayat di atas menegaskan, “Maka barang siapa yang beribadah haji ke baitullah atau umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya,”

Disinilah letak hubungan surah al-Baqarah ayat 158 dengan ayat sebelumnya yang berbicara mengenai kesabaran. Kesabaran yang cirinya dibicarakan dalam ayat 156- 157, bukan berarti mereka sabar yang tidak berupaya. Mereka berupaya yang dinamai oleh al-Quran dengan sa’i yang arti harfiahnya, menurut Muhammad Quraish Shihab dalam Al-Mishbah adalah usaha.

Selain Sa’i merupakan perintah Allah dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah, Sa’i dalam penerapan kehidupan sehari-hari adalah usaha sungguh-sungguh untuk mencari kehidupan dengan memulainya dari Shafa (kesucian niat) berakhir di Marwah (kepuasan bathin). Di samping itu, dalam berbagai sisi kehidupan, usaha (Sa’i) tentu sangat membutuhkan kesabaran.

Dalam konteks keseharian, pada hakikatnya kita semua melakukan sa’i. Sa’i dalam mencari rezeki untuk keluarga, sa’i dalam belajar menuntut ilmu, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah bentuk usaha kita yang akan bernilai pahala jika dimulai dengan shafa (kesucian niat) dan berakhir dengan marwah (kepuasan bathin). Dalam konteks melaksanakan ibadah haji atau umrah, maupun usaha-usaha lainnya untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di duniawi, selama diniatkan karena Allah, dilakukan dengan ketulusan dan kesabaran, serta diakhiri dengan kepuasan bathin, maka semua akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. (Vn.Foto.Istimewa)

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Ayyub As-Sukhtiyani dan Kasir ibnu Kasir ibnul Muttalib ibnu Abu Wida'ah (salah seorang dari keduanya memberikan tambahan atas yang lain) , dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a yang menceritakan kisah berikut;



Wanita yang mula-mula memakai mintaq (ikat pinggang) di zaman dahulu adalah ibu Nabi Ismail. Dia sengaja memakai mintaq untuk menghilangkan kesan kehamilannya terhadap Sarah (isteri Nabi Ibrahim a.s yang masih belum punya anak). 

Kemudian Nabi Ibrahim membawanya pergi bersama anaknya Ismail (yang baru lahir), sedangkan ibunya menyusuinya. Lalu Nabi Ibrahim menempatkan keduanya berhampiran Baitullah, iaitu di bawah sebuah pohon besar di atas Zamzam, bahagian dari masjid yang paling tinggi. Waktu itu di Mekah masih belum ada seorang manusia pun, tiada pula setitis air. Nabi Ibrahim menempatkan keduanya di tempat itu dan meletakkan berhampiran keduanya sebuah kantung besar yang berisikan buah kurma dan sebuah wadah yang berisikan air minum. 

Kemudian Nabi Ibrahim pulang kembali (ke negerinya). Maka ibu Nabi Ismail mengikutinya dan bertanya, "Hai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi, sanggupkah engkau meninggalkan kami di lembah yang tandus dan tak ada seorang pun ini?" Ibu Nabi Ismail mengucapkan kata-kata ini berkali-kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak sekali pun berpaling kepadanya. Maka ibu Nabi Ismail bertanya, "Apakah Allah telah memerintahkan kamu melakukan hal ini?" Nabi Ibrahim baru menjawab, "Ya." Ibu Nabi Ismail berkata, "Kalau demikian, pasti Allah tidak akan mensia-siakan kami." 

Lalu ibu Nabi Ismail kembali (kepada anaknya), sedangkan Nabi Ibrahim berangkat meneruskan perjalanannya. Ketika dia sampai di sebuah celah (lereng bukit) hingga mereka tidak melihatnya, maka dia menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, kemudian memanjatkan doanya seraya mengangkat kedua tangannya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya;

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman berhampiran rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati......." [Surah Ibrahim : 37]

sampai kepada firman-Nya: 

"....... mudah-mudahan mereka bersyukur." [Ibrahim : 37]

Ibu Ismail menyusui anaknya dan minum dari bekal air tersebut. Lama-kelamaan habislah bekal air yang ada di dalam wadahnya itu, maka ibu Ismail merasa kehausan, begitu pula dengan Ismail. Ibu Ismail memandang bayinya yang menangis sambil meronta-ronta, lalu dia berangkat kerana tidak sanggup memandang anaknya yang sedang kehausan. Dia menjumpai Bukit Safa yang merupakan bukit terdekat yang ada di sebelahnya. Maka dia berdiri di atasnya, kemudian menghadapkan dirinya ke arah lembah seraya memandang ke sekitarnya, barangkali dia dapat menjumpai seseorang, tetapi ternyata dia tidak melihat seorang manusia pun di sana. 

Dia turun dari Bukit Safa. Ketika sampai di lembah bawah, dia mengangkat (menyingsingkan) baju kurungnya dan berlari kecil seperti berlarinya orang yang kepayahan hingga lembah itu dilalui olehnya, lalu dia sampai di Bukit Marwah. Maka dia berdiri di atas Marwah, kemudian menghadap ke arah lembah seraya memandang ke sekelilingnya, barangkali dia menjumpai seseorang, tetapi ternyata dia tidak melihat seorang manusia pun. Hal ini dilakukannya sebanyak tujuh kali. 

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahawa Nabi S.a.w pernah bersabda;

"Kerana itu, maka manusia melakukan sa'i di antara keduanya (Safa dan Marwah)."

Ketika ibu Ismail sampai di puncak Bukit Marwah, dia mendengar suatu suara, lalu dia berkata kepada dirinya sendiri, "Tenanglah!" Kemudian dia memasang pendengarannya baik-baik, dan ternyata dia mendengar adanya suara, lalu dia berkata (kepada dirinya sendiri), "Sesungguhnya aku telah mendengar sesuatu, nescaya di sisimu (Ismail) ada seorang penolong." 

Ternyata dia bersua dengan malaikat di telaga Zamzam, malaikat itu sedang menggali tanah dengan kakinya atau dengan sayapnya hingga muncul air. Maka ibu Ismail membuat kolam dan mengisyaratkan dengan tangannya, lalu dia mencedok air itu dengan kedua tangannya untuk dia masukkan ke dalam wadah air minumnya, sedangkan telaga Zamzam terus memancar setelah ibu Ismail selesai mencedoknya. 

Ibnu Abbas r.a. melanjutkan kisahnya bahawa Nabi Saw. pernah bersabda;

"Semoga Allah merahmati ibu Ismail. Sekiranya dia membiarkan Zamzam (atau tidak mencedok sebahagian dari airnya), nescaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir."

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahawa setelah itu ibu Ismail minum air Zamzam dan menyusui anaknya. Maka malaikat itu berkata kepadanya, "Janganlah kamu takut disia-siakan, kerana sesungguh-nya di sini terdapat sebuah rumah milik Allah yang kelak akan dibangunkan oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan mensia-siakan penduduk rumah ini." 

Tersebutlah bahawa rumah itu (Baitullah) masih berupa tanah yang menonjol ke atas mirip dengan timbunan tanah (bukit kecil); bila datang banjir, maka air mengalir ke sebelah kanan dan kirinya. 

Ibu Ismail tetap dalam keadaan demikian, hingga lalu kepada mereka serombongan orang dari kabilah Jurhum atau salah satu keluarga dari kabilah Jurhum yang datang kepadanya melalui jalur Bukit Kida. Mereka turun istirehat di bahagian bawah Mekah, lalu mereka melihat ada burung-burung terbang berkeliling (di suatu tempat), maka mereka berkata, "Sesungguhnya burung-burung ini benar-benar mengitari sumber air. Menurut kebiasaan kami, di lembah ini tidak ada air." 

Lalu mereka mengirimkan seorang atau dua orang pelari mereka, dan ternyata mereka menemui adanya air. Kemudian pelari itu kembali dan menceritakan kepada rombongannya bahawa di tempat tersebut memang ada air. Lalu rombongan mereka menuju ke sana. 

Ibnu Abbas r.a. melanjutkan kisahnya, bahawa ketika itu ibu Ismail berada berdekatan telaga Zamzam. Mereka berkata, "Apakah engkau mengizinkan kami untuk turun istirehat di tempatmu ini?" Ibu Ismail menjawab, "Ya, tetapi tidak ada hak bagi kalian terhadap air kami ini." Mereka menjawab, "Ya." 

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahawa Nabi Saw. bersabda;

"Maka dengan kedatangan mereka, ibu Ismail merasa terhibur, kerana memang dia memerlukan teman."

Mereka tinggal di Mekah dan mengirimkan urusannya kepada keluarga mereka (di tempat asalnya), lalu mereka datang dan tinggal bersama ibu Ismail dan rombongan pertama mereka. 

Ketika di Mekah telah berpenghuni beberapa ahli bait dari kalangan mereka (orang-orang Jurhum), sedangkan pemuda itu (Ismail) telah dewasa dan belajar bahasa Arab dari mereka, ternyata peribadi Ismail memikat mereka ketika dewasanya. Setelah usia Ismail cukup matang untuk kahwin, lalu mereka mengahwinkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Tidak lama kemudian ibu Ismail wafat. [Imam Ibnu Katsir - Tafsir Ibnu Katsir, surah al-Baqarah : ayat 125 - 128]

Bersambung ke Kisah Nabi Ibrahim menguji menantunya