Menyusun ringkasan isi teks laporan hasil observasi dtopeng

Fokus pembelajaran adalah menyusun ringkasan isi untuk meningkatkan kemampuan siswa menceritakan kembali isi teks laporan hasil observasi.

Show

Petunjuk untuk Guru

Guru dapat memulai pembelajaran dengan menampilkan contoh sebuah paragraf kemudian menugaskan siswa membuat ringkasannya. Langkah ini sangat bagus untuk mengetahui secara pasti pemahaman siswa tentang ringkasan dan cara membuat ringkasan yang tepat.

Tanpa mengomentari benar salahnya hasil ringkasan yang dibuat siswa, guru kemudian mengajukan pertanyaan, “Apakah ringkasan itu?”, “Bagaimana cara membuat ringkasan?”, dan “Apa manfaat ringkasan?”

Sebuah ringkasan pada dasarnya merupakan rangkaian pokok-pokok pikiran yang dirangkai menjadi satu dengan tetap memerhatikan urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan. Untuk menyusun sebuah ringkasan, hal yang pertama harus dilakukan adalah membaca pemahaman isi teks, kemudian menemukan pokok-pokok isi informasi di dalamnya.

Pokok-pokok isi sebuah teks dapat ditemukan dengan menemukan kalimat utamanya. Kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya mengandung pokok pikiran atau gagasan utama yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf.

Gagasan utama bersifat umum dan dapat merangkum semua isi yang ada dalam sebuah paragraf.

Guru mengajak siswa bersama-sama mendiskusikan pokok penting dalam paragraf pertama teks wayang (Lihat tabel di bawah).

Selanjutnya, guru menugaskan siswa secara berpasangan dengan teman sebangkunya untuk menentukan gagasan pokok tiap-tiap paragraf dalam teks Wayang sebagai berikut.

Contoh Jawaban

Gagasan Utama Paragraf

Wayang kulit memiliki berbagai macam jenis jika dilihat dari umur dan gaya pertunjukan.

Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis. Jenis yang paling terkenal, karena diperkirakan memiliki umur paling tua adalah wayang purwa.

Purwa berasal dari bahasa Jawa, yang berarti awal. Wayang ini terbuat dari kulit kerbau yang ditatah, dan diberi warna sesuai kaidah pulasan wayang pendalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri atas tuding dan gapit. Cerita yang biasanya digunakan adalah Ramayana dan Mahabharata. Wayang purwa terdiri atas beberapa gaya atau gagrak seperti, gagrak Kasunanan, Mangkunegaraan, Ngayogyakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya. Selain wayang purwa jenis wayang kulit yang lain yaitu: wayang madya, wayang gedog, wayang dupara, wayang wahyu, wayang suluh, wayang kancil, wayang calonarang, wayang krucil, wayang ajen, wayang sasak, wayang sadat, wayang parwa, wayang arja, wayang gambuh, wayang cupak, dan wayang beber yang saat ini masih berkembang di Pacitan.

Pada setiap daerah, wayang wong memiliki sebutan yang berbeda.

Wayang wong (bahasa Jawa yang berarti ‘orang’) adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang orang yang dikenal di suku Banjar adalah wayang gung, sedangkan yang dikenal di suku Jawa adalah wayang topeng. Wayang topeng dimainkan oleh orang yang menggunakan topeng. Wayang tersebut dimainkan dengan iringan gamelan dan tari-tarian. Perkembangan wayang orang pun saat ini beragam, tidak hanya digunakan dalam acara ritual, tetapi juga digunakan dalam acara yang bersifat menghibur. Wayang golek adalah

salah satu jenis wayang yang berasal dari Sunda memiliki bahan dasar sebuah kayu.

Selanjutnya, jenis wayang yang lain adalah wayang golek yang mempertunjukkan boneka kayu. Wayang golek berasal dari Sunda. Wayang ini disebut juga sebagai wayang thengul. Selain wayang golek Sunda, wayang yang terbuat dari kayu adalah wayang menak atau sering juga disebut wayang golek menak karena cirinya mirip dengan wayang golek. Wayang tersebut kali pertama dikenalkan di Kudus. Selain golek, wayang yang berbahan dasar kayu adalah wayang klithik. Wayang klithik berbeda dengan golek. Wayang tersebut berbentuk pipih seperti wayang kulit. Akan tetapi, cerita yang diangkat adalah cerita Panji dan Damarwulan. Wayang lain yang terbuat dari kayu adalah wayang papak atau cepak, wayang timplong, wayang potehi, wayang golek techno, dan wayang ajen.

Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket.

Perkembangan terbaru dunia pewayangan menghasilkan kreasi berupa wayang suket. Disebut wayang suket

karena wayang yang digunakan terbuat dari rumput yang dibentuk menyerupai wayang kulit. Wayang suket

merupakan tiruan dari berbagai igur wayang kulit yang terbuat dari rumput (bahasa Jawa: suket). Wayang suket biasanya dibuat sebagai alat permainan atau penyampaian cerita pewayangan kepada anak-anak di desa-desa Jawa.

Dalam versi modern terdapat wayang yang disebut dengan wayang motekar atau wayang plastik yang berwarna.

Dalam versi lebih modern, terdapat wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Wayang motekar adalah sejenis pertunjukan teater bayang-bayang atau serupa wayang kulit. Akan tetapi, jika wayang kulit memiliki bayangan yang berwarna hitam saja, wayang motekar menggunakan teknik terbaru hingga bayang-bayangnya bisa tampil dengan warna-warni penuh. Wayang motekar ditemukan dan dikembangkan oleh Herry Dim setelah melewati eksperimen lebih dari delapan tahun (1993 – 2001). Wayang tersebut menggunakan bahan plastik berwarna, sistem pencahayaan teater modern, dan layar khusus.

Wayang memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan, antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan karena dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan ajaran-ajaran yang baik dengan cara yang menarik. Pemerintah juga sering menggunakan wayang sebagai media informasi misalnya dengan menggelar wayang yang disisipi informasi tentang program pembangunan seperti keluarga berencana (KB), pemilihan umum, dan sebagainya. Terakhir, meski semakin jarang, wayang masih tetap menjadi media hiburan. Dengan kata lain, wayang mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Setelah menemukan semua gagasan pokok tiap paragraf dalam teks laporan hasil observasi di atas, guru menugasi siswa menggabungkan kalimat-kalimat itu dengan konjungsi yang tepat.

Berikut ini contoh hasil ringkasan berdasarkan gagasan pokok yang telah diidentifikasi. Guru dapat menggunakan contoh ringkasan ini sebagai pembanding ringkasan karya siswa.

Wayang adalah seni pertunjukan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya asli Indonesia. Wayang kulit dilihat dari umur, dan gaya pertunjukannya pun dibagi lagi menjadi bermacam jenis . Wayang wong adalah salah satu pertunjukan wayang yang diperankan langsung oleh orang. Wayang golek adalah jenis wayang yang mempertunjukkan boneka kayu. Ada juga wayang suket yaitu wayang yang terbuat dari rumput dan wayang motekar atau wayang plastik berwarna. Semua jenis wayang di atas merupakan wujud ekspresi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan antara lain sebagai media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Tugas 1

Guru menugasi siswa membaca teks laporan hasil observasi berjudul D’topeng Museum Angkut berikut ini kemudian mengerjakan tugas-tugasnya di akhir teks.

You're Reading a Free Preview
Pages 5 to 9 are not shown in this preview.

You're Reading a Free Preview
Page 2 is not shown in this preview.

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran sebelumnya, selanjutnya kamu akan bertugas untuk menyusun ringkasan isi teks laporan hasil observasi. Bacalah teks berikut yang berjudul D’topeng Museum Angkut dan kerjakan tugas-tugasnya di akhir teks.

Adapun beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk membuat ringkasan, antara lain:

    • Mencatat teks yang akan diringkas dengan teliti;
    • Mencatat pokok-pokok gagasan yang menjadi inti teks
    • Merangkaikan kembali teks tersebut dengan kalimat sendiri secara ringkas berdasarkan pokok-pokok gagasan yang telah dicatat;
    • Menyunting ringkasan, baik dari segi isi maupun bahasa.

D’topeng Museum Angkut

D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Keberadaan D’topeng tidak dapat dipisahkan dengan Museum Angkut karena kedua tempat ini berada di satu tempat yang sama. Tempat wisata ini seringkali disebut pula sebagai museum topeng karena memang berisi topeng dengan berbagai model dan bentuk. Namun, D’topeng tidak hanya berisi topeng, tetapi juga berisi pameran benda-benda berupa barang tradisional dan barang antik. Topeng, barang tradisional, dan barang antik dalam museum ini dapat dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan bahan pembuatannya, yaitu berbahan kayu, batu, logam, kain, dan keramik.

Benda paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng. Ada beragam jenis topeng di museum ini. Topeng-topeng tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan bahan dasarnya, yaitu yang berbahan dasar kayu dan batu. Topeng berbahan kayu sebagian besar berasal dari daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara itu, topeng yang berbahan batu berasal dari daerah sekitar Sulawesi dan Maluku.

BACA:  Membedakan Teks Rekaman Percobaan

Selain topeng, barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng. Barang-barang tradisional yang mengisi etalase-etalase museum ini adalah senjata tradisional, perhiasan wanita zaman dahulu yang berbahan dasar logam, batik-batik motif lama, dan hiasan rumah kuno. Berdasarkan bahan dasarnya, barang-barang tersebut juga dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berbahan dasar kayu seperti hiasan rumah berupa kepala kerbau asal Toraja, berbahan dasar batu seperti alat penusuk jeruk asal Batak, berbahan dasar logam seperti pisau sunat dan perhiasan logam asal Sumba, dan yang berbahan dasar kain seperti batik berbagai motif asal Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik. Barang-barang antik seperti guci tua, kursi antik, bantal arwah, mata uang zaman kerajaan-kerajaan, dan benda-benda lain dapat dijumpai di dalam museum D’topeng. Barang-barang tersebut dapat pula digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan bahan pembuatannya, yaitu keramik dan logam. Barang antik berbahan dasar keramik di museum ini adalah guci-guci tua peninggalan salah satu dinasti di China dan bantal yang digunakan untuk bangsawan Dinasti Yuan (China) yang sudah meninggal. Sementara itu, barang antik yang berbahan dasar logam adalah jinggaran coin (Kerajaan Gowa), mata uang kerajaan majapatih, koin VOC, dan kursi antik asal jawa Tengah.

BACA:  Sejarah Sastra Indonesia

Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya. Selanjutnya, D’topeng berfungsi pula sebagai museum, yaitu sebagai konservasi benda-benda langka agar terhindar dari perdagangan illegal.

Tugas 1

Setelah membaca teks di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini secara tepat.

1) Apakah D’topeng Museum Angkut itu?
Jawab: D’topeng musium angkut salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, jawa timur

2) Sebutkan topeng apa yang disimpan di D’topeng?
Jawab: D’topeng tidak dapat dipisahkan dengan Museum Angkut karena kedua tempat ini berada di satu tempat yang sama

3) Jelaskan bagaimana gambaran barang tradisional koleksi D’topeng?
Jawab: D’topeng seringkali disebut pula sebagai museum topeng karena memang berisi topeng dengan berbagai model dan bentuk

4) Jelaskan bagaimana gambaran barang kuno koleksi D’topeng?
Jawab: D’topeng juga berisi pameran benda-benda berupa barang tradisional dan barang antik

5) Apa manfaat D’topeng?
Jawab: Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya

Tugas 2

Selanjutnya berlatihlah untuk menemukan gagasan pokok dalam teks laporan hasil observasi. Temukanlah pokok-pokok penting teks D’topeng Museum Angkut.

  1. Gagasan pokok paragraf 1
    D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur.
  2. Gagasan pokok paragraf 2
    Benda paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng.
  3. Gagasan pokok paragraf 3
    Selain topeng, barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng.
  4. Gagasan pokok paragraf 4
    Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik.
  5. Gagasan pokok paragraf 5
    Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya.

BACA:  Menganalisis Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi

Tugas 3

Setelah berlatih memahami gagasan pokok laporan hasil observasi seperti di atas, tugasmu berikutnya adalah berlatih menyusun ringkas. Caranya, rangkaikanlah gagasan-gagasan pokok setiap paragraf hasil kerjamu di atas dengan menggunakan kata penghubung (konjungsi) yang tepat.

  • Ringkasan gagasan pokok paragraf 1-3:

D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur, dengan benda yang paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng. Selain topeng, ada juga barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng.

  • Ringkasan gagasan pokok paragraf 4 dan 5:

Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik. Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya.

Konjungsi : dengan, selain, ada juga