Mengapa soekarno hatta disebut dwitunggal

Dwitunggal Soekarno-Hatta pahlawan proklamator      kemerdekaan Indonesia/ penyusun, Tugiyo KS,        Sutrisno Kutoyo, Ratna Evi. -- [s.l]: Mutiara Sumber        Widya, 2000.      157 hlm.: ilus.; 25 cm.        Bibliografi: hlm. 156-157         923.159 8                                                                     3 eks

Bentuk kerjasama saling mengisi dan terpadu antara Soekarno dan Mohammad Hatta yang terbina sejak masa pergerakan nasional terus berlanjut pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Soekarno-Hatta bekerja sama memimpin organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dibentuk oleh Jepang. Melalui PUTERA mereka menggelorakan rakyat mempersiapkan diri menyongsong Indonesia Merdeka. Buku ini menampilkan perjuangan Dwi Tunggal Soekarno-Hatta dua tokoh pahlawan proklamator kemerdekaan Indonesia.

Dhio Faiz | CNN Indonesia

Jumat, 17 Aug 2018 10:35 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Duo proklamator, Sukarno dan Mohammad Hatta, nyaris selalu digambarkan sebagai pasangan sehati sevisi; dwitunggal. Namun sejarah juga mencatat cela hubungan keduanya. Ada saat hubungan kedua tokoh itu memburuk.Sejarawan Universitas Indonesia Andi Achdian menyebut gesekan antara keduanya sering terjadi sejak masa perjuangan kemerdekaan tahun 1930-an. Perbedaan bermula dari perbedaan pandangan politik Bung Karno dan Bung Hatta."Strategi pergerakan Sukarno berfokus pada penggalangan massa, sedangkan Hatta elite terdidik yang mengutamakan pendidikan segelintir elite. Jadi sejak awal ada perbedaan visi menggalang kekuatan pergerakan," ucap dia, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).
Dalam otobiografi Hatta berjudul 'Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang', konflik besar pertama saat Sukarno dan tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja ditangkap Belanda.Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo).Hatta menyesalkan hal itu. Ia sebenarnya berharap banyak dari PNI. Namun, politik agitasi ala Sukarno malah berakibat antiklimaks."Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat," ucap Hatta dalam buku itu.

Sukarno-Hatta dalam uang pecahan Rp100 ribu emisi 2016. (cnnindonesia/safirmakki)

Namun toh Soekarno-Hatta terus berjuang dengan tujuan bersama, Indonesia merdeka. Nama keduanya juga yang tercantum di naskah Proklamasi Kemerdekaan atas nama Bangsa Indonesia.Nama Soekarno-Hatta pula yang tertulis dengan tinta emas sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.Namun hubungan keduanya tak selalu mulus meski kemerdekaan sudah direngkuh.Puncak konflik Sukarno dan Hatta terjadi pada 1956. Saat itu Sukarno menawarkan sistem politik baru, demokrasi terpimpin.Ia menganggap sistem parlementer membuat negara tak stabil dan selalu berujung kebuntuan dalam pengambilan keputusan. Hasilnya, semua keputusan akan ditumpukan ke pemimpin negara, Sukarno."Sejak saat itu, Hatta secara terang-terangan beroposisi terhadap Sukarno. Bukan lagi berbeda, tapi beroposisi dengan apa yang dia sebut kediktatoran dalam cara dan gaya Sukarno memerintah," ujar Andi.Bahkan pada 20 Juli 1956 Hatta mengajukan surat pengunduran diri ke DPR. DPR baru membahas empat bulan setelahnya.Pria kelahiran Bukit Tinggi pada 12 Agustus 1902 itu pun resmi meninggalkan jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1 Desember 1956. Kepada anak angkatnya, Des Alwi Abu Bakar, Hatta menyatakan dirinya hanya diminta mengurus koperasi selama jadi orang nomor dua di republik."Aduh, Des, Om cuma disuruh ngurus koperasi. Segala keputusan politik tidak dikonsultasikan dengan saya. Jadi Om berhenti saja jadi wakil presiden," kata  Hatta kepada Des Alwi, dikutip dari buku 'Wapres: Pendamping atau Pesaing?'.

Menyimpan Hormat

Meski sering bertolak belakang dalam urusan politik, Sukarno dan Hatta tetap saling memiliki rasa hormat satu sama lain sebagai personal.Setelah lengser dari RI 2, Hatta berkeliling Eropa untuk mengisi ceramah di kalangan mahasiswa. Satu waktu, ia ditanya soal kebijakan Sukarno beberapa waktu terakhir.

Sejumlah peziarah dari berbagai daerah di Indonesia memadati makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, 2015. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)

Hatta yang keluar dari pemerintahan lantaran kecewa, tak sama sekali merendahkan koleganya itu."Baik buruknya Bung Karno, beliau adalah Presiden saya," ucap Hatta.Begitu pun saat Sukarno jatuh sakit di akhir periode 1960-an. Hatta menggantikan Sukarno menjadi wali pernikahan Guntur Soekarnoputra.Momen haru juga terjadi pada akhir hayat Sukarno. Pria kelahiran Surabaya, 6 Juni 1901 itu dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.Buku 'Bung Karno: The Untold Stories' mencatat pada 16 Juni 1970 Hatta sempat mengunjungi sahabatnya yang terbujur lemas di tempat tidur. Tak lama usai ia datang, Sukarno sempat menyapanya."Hatta, apakah kau di sini?" ucap Sukarno dari atas tempat tidur.Sembari mengangguk perlahan, Hatta menjawab, "Ya aku di sini. Bagaimana keadaanmu, No?"

"Hoe gaat het met jou? [Bagaimana keadaanmu?]" Sukarno bertanya balik.

Rumah masa kecil Bung Hatta di Bukittinggi, Sumatera Barat. (Dok. Kebudayaanindonesia.net)

Sambil mengenggam erat tangan Sukarno, Hatta tersenyum dan tak kuasa menahan tangis.Lima hari kemudian, Sukarno meninggal dunia. Hatta menyusul sepuluh tahun setelahnya, tepatnya pada 14 Maret 1980.Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Sementara Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.Meski sangat berjasa untuk pembentukan negara Indonesia, keduanya baru mendapat gelar pahlawan nasional pada 2012, 67 tahun setelah kemerdekaan."Tidak terlepas dari [kebijakan] Orde Baru. Kan di Orde Baru ada upaya de-Sukarnoisasi atau pengecilan peran Sukarno dalam kemerdekaan," jelas Andi Achdian.

(arh/sur)

LIVE REPORT

LIHAT SELENGKAPNYA

Sukarno menikahi Hartini pada tanggal 7 Juli 1954. Sejak itu, gelombang protes bergulung-gulung. Bung Karno dikritik, Hartini dihujat. Situasi makin keruh ketika tak lama kemudian, Fatmawati sang First Lady, meninggalkan Bung Karno dan Istana Negara-nya, memilih tinggal di bilangan Jl. Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Praktis sejak itu, Fatma tak lagi berjumpa Sukarno. Berbagai upaya yang dilakukan putra-putrinya, bahkan ajudannya, untuk mengembalikan Fatma ke Istana, gagal total. Sakit hatinya kepada Hartini, sempat menjalar ke sanubari Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.

Begitulah hingga matahari kekuasaan Bung Karno mulai condong ke barat. Bahkan ketika Bung Karno dilengserkan, kemudian sakit-sakitan dan ditelantarkan, jurang antara Bung Karno dan Fatma masih begitu lebar menganga. Terlebih, Bung Karno berada di Bogor, di bawah perawatan dan pelayanan setia Hartini.

Manakala penyakitnya makin parah, tibalah saat Bung Karno dipindah ke Wisma Yaso, melalui serangkaian permohonan kepada Soeharto. Di sini, Hartini pula yang setia mendampingi. Satu-satunya putra Bung Karno dari Fatma yang rajin mengunjungi bapaknya adalah Rachma.

Dari seringnya Rachma bertemu Hartini, pelan-pelan, rasa benci itu terusir. Keduanya bahkan menjadi sangat akrab untuk satu tujuan, menyenangkan bapaknya yang makin hari makin parah kondisinya. Sampai di sini, Fatma belum juga tergerak hati untuk menengok. Bujukan putra-putrinya selalu ditolak, “Ibu tidak mau. Di sana ada Hartini!”

Padahal, kepada Hartini, kepada Guntur, Rachma, Mega, Sukma, dan Guruh, Bung Karno berkali-kali mengemukakan rasa inginnya berjumpa Fatma. Ia merindu Fatma. Mungkin saja demi masa lalu, demi putra-putri, atau demi sebuah hajat sebelum ajal menjemput. Tak bersambut.

Bung Karno boleh berkehendak, Fatma boleh menolak, tapi Tuhan adalah Sang Mutlak. Takdir pun digoreskan, bahwa keduanya dipertemukan kembali di tahun 1969, dalam momentum pernikahan Rachmawati dengan dokter Martomo Pariatman Marzuki yang akrab disapa mas Tommy.

Bung Karno diizinkan oleh pemerintahan Soeharto menghadiri pernikahan Rachma. Ia hadir dikawal sepasukan tentara dengan sangat ketat. Entah bahaya apa yang bisa ditimbulkan dari seorang mantan presiden. Yang pasti, karena ginjal dan komplikasi penyakit yang lain, Sukarno muncul dengan wajah bengkak, tubuh yang lemah sehingga harus dipapah. Jauh dari profil Bung Karno yang gagah perkasa, yang berapi-api kalau berbicara, yang parlente jika berbusana….

Demi melihat Bung Karno tiba, Fatma berperang rasa. Antara luapan rindu dan nelangsa. Antara murka dan cinta. Biar saja rasa itu berpusing-pusing dengan problemanya… Fatma segera menghambur menjemput Sukarno, memeluk, mencium dan memapahnya. Untuk itu, ia harus menerobos pengawalan yang super ketat.

Demi melihat pemandangan itu, Guntur dan adik-adiknya, serta Bung Hatta dan para tetamu lainnya, tak kuasa membendung air mata. Ada sebongkah haru demi mengingat, keduanya dipertemukan setelah berpisah 15 tahun lamanya.

Nah, bayangkanlah… suasana pernikahan, berjumpa Fatma, dan berbaur dengan rakyat… betapa bahagia hati Sukarno. Apa lacur, “bahagia” adalah sesuatu yang diharamkan oleh rezim Soeharto kepada Sukarno. Tak pelak, belum tuntas suasana bahagia dilapis haru-biru itu berlangsung, sejumlah pasukan pengawal sudah kembali menerobos masuk, dan menyingkirkan Fatma dari sisi Sukarno. Pengawal itu kembali mengucipkan Sukarno dari Hatta. Pawa pengawal itu segera mengucilkan Sukarno dari para tamu.

Semua perlawanan, apa pun dalihnya… dalih kesopanan, dalih kasihan, dalih kemanusiaan… tidak berlaku. Kembali, Fatma, putra-putri dan para tamu menangis… bukan bahagia yang melandasi lelehan air mata mereka, melainkan sembilu yang menyayat hati… rasa iba di dasar hati terdalam… demi melihat kasar dan hinanya perlakuan rezim Soeharto kepada Sukarno. (roso daras)