Etika dalam penampilan ada 7 sebutkan dan berikan contoh

Mahasiswa dituntut untuk menjadi kaum terpelajar. Banyak hal yang harus dikembangkan oleh mahasiswa dari kebiasaannya di tingkat sekolah menengah. Salah satu yang menjadi penunjang perkembangan diri mahasiswa tersebut adalah persoalan etika. Etika yang diterapkan di lingkungan kampus tentu saja berbeda dengan saat berada di sekolah menengah, mulai dari berinteraksi dengan dosen, dengan teman, bahkan dengan lingkungannya.

Etika sendiri secara sederhana adalah pandangan yang melihat baik dan buruknya suatu hal. Dengan melihat dari sudut pandang tersebut, mahasiswa harus bisa memilah dan bertindak sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapinya.

Berikut adalah beberapa contoh etika yang harus dimiliki oleh mahasiswa

1. Berpakaian Rapi

Pada dasarnya, pola pikir bisa dilihat dari cara seseorang berpakaian. Maka dari itu, mahasiswa harus bisa berpakaian rapi dan sopan sebagai simbol bahwa dirinya adalah kaum terpelajar. Paling tidak, mahasiswa harus menggunakan pakaian yang bersih dan layak dimanapun ia berada. Terlebih lagi, jika sedang berada di lingkungan akademis, seperti saat belajar di ruang kelas, bahkan saat sidang akhir. Cara mahasiswa berpakaian memperlihatkan penghormatan dirinya terhadap situasi yang dihadapinya saat itu.

Jangan memberikan citra buruk bahwa mahasiswa tidak peduli terhadap penampilannya. Paling tidak, penampilan yang baik adalah bentuk mahasiswa menghormati dirinya sendiri.

2. Menaati Peraturan

Lingkungan kampus pasti memiliki aturan-aturan yang diterapkan agar tercipta ketertiban umum. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus bisa menaati peraturan-peraturan tersebut sebagai tanda penghormatan dirinya terhadap lingkungan kampus. Jika dirinya melanggar tata tertib yang diterapkan di kampus, apalagi dengan penuh kesadaran, maka dirinya telah mencoreng nama mahasiswa sebagai kaum terpelajar.

Tetapi, bukan berarti mahasiswa tidak bisa kritis pada suatu aturan. Sebagai mahasiswa yang harus memiliki sikap kritis terhadap sesuatu, jika terdapat suatu aturan yang melenceng dari norma, mahasiswa harus mempertanyakannya. Tentu saja sikap kritis mahasiswa tersebut harus tetap berada dalam koridor yang benar.

3. Bertutur Kata Baik

Terdapat satu ungkapan bahwa ‘teko hanya mengeluarkan isi teko, jika isi teko adalah air, yang dikeluarkannya adalah air pula’. Ungkapan ini adalah analogi terhadap perkataan orang. Artinya, perkataan yang diucapkan merupakan cerminan dari dirinya sendiri.

Maka dari itu, sebagai kaum terpelajar, mahasiswa harus bisa bertutur kata yang mencerminkan intelektualitasnya. Paling tidak, apa yang dikatakan bukanlah suatu yang tidak bisa dibuktikan. Apa yang dikatakan harus berdasarkan suatu pemikiran yang mendalam. Tentu saja dirinya harus melihat situasi untuk menyesuaikan dengan perkataan yang diucapkan.

Paling tidak, penjelasan di atas adalah hal-hal yang penting yang harus diperhatikan oleh mahasiswa. Hal ini tidak berarti semua mahasiswa harus seperti itu. Hal-hal di atas adalah sesuatu yang harus dilatih agar menjadi mahasiswa dengan pribadi dan etika yang lebih baik.

Ilustrasi busana kerja. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Penampilan terbaik untuk bekerja di kantor adalah pilih busana yang sederhana namun elegan. Kalau bisa, ciptakan dampak positif bagi rekan kerja dengan cita rasa berpakaianmu. Gaya berpakaian itu seharusnya tidak mengganggu orang lain dan harus meningkatkan rasa percaya dirimu.

Ada beberapa aturan berpenampilan yang disarankan untuk ke kantor. Hindari tampil terlalu berlebihan, dan cerdaslah dalam berpenampilan. Percaya atau tidak, penampilan turut andil dalam perkembangan karier Anda. Berikut penampilan yang baik untuk ke kantor seperti dikutip Tempo dari Boldsky:

1. Riasan natural


Untuk penampilan saat bekerja di kantor, hindari riasan yang menor. Cukup gunakan riasan sederhana agar terlihat segar dan alami. Gunakan warna bibir nude dan bukan yang terang. Hindari smokey eyes, dan gunakan eye shadow ringan.

2. Pakaian formil


Ada beberapa jenis pakaian yang kurang tepat apabila dipakai untuk bekerja di kantor. Kenakan pakaian formil, rapi, dan pastinya layak pakai. Hindari mengenakan celana jeans compang-camping dan pakaian yang robek ke tempat kerja.

3. Hindari warna-warni


Untuk lingkungan kantor, hindari memakai terlalu banyak warna berbeda. Agar tampil feminin dan gaya, kenakan baju atasan berwarna polos, lalu padankan dengan celana atau rok berwarna pudar atau redup. Kamu bisa memakai aksesori kalung untuk menampilkan kesan anggun.

4. Perhiasan secukupnya


Memakai perhiasan cukup satu atau dua buah saja. Jangan juga menggunakan perhiasan yang ukurannya terlalu besar. Bayangkan gelang yang kamu pakai ramai bergemerincing saat rapat. Ini bisa membuat kamu merasa canggung.

5. Ikuti dress code


Setiap perusahaan memiliki aturan dalam berpakaian. Jika perusahaan tempatmu bekerja menetapkan seragam, maka kamu wajib mengikutinya. Jika orang di sekitarmu berpakaian formal, maka kamu harus melakukan hal yang sama.

6. Sepatu yang mendukung penampilan


Tidak peduli seberapa patut kamu berpakaian, jika tampilan sepatu tidak mendukung, itu semua tidak akan ada gunanya. Pakai sepatu yang bersih, layak, dan nyaman dipakai. Memakai sepatu jinjit atau high heels ke kantor akan memberikan kesan glamor, lebih tinggi, dan semakin gaya.

7. Cerdas berpakaian


Kepribadianmu tercermin dari pakaian yang kamu kenakan. Jadi, cita rasa berpakaian yang baik penting untuk menentukan posisi yang lebih tinggi dalam karier.

LUCIANA

Berita lainnya:

Dompet Kosong di Tanggal Tua, Mungkin Ini Masalahnya

Sering Merasa Sebal di Kantor, Identifikasi 9 Penyebabnya

5 Kegiatan yang Bikin Semangat Kerja Setelah Libur Lebaran

Apakah etika?

Pada masyarakat di belahan dunia manapun, terdapat nilai-nilai dasar perilaku yang secara umum diakui sebagai norma yang harus dipatuhi, selain peraturan atau norma hukum. Norma tersebut biasa disebut etika. Etika dalam arti sempit sering dipahami masyarakat sebagai sopan santun. Sedangkan etika secara umum/luas adalah suatu norma atau aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku di masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk. Etika merupakan suatu ilmu tentang kesusilaan dan perilaku manusia di dalam pergaulannya dengan sesama yang menyangkut prinsip dan aturan tentang tingkah laku yang benar. Dengan kata lain, etika adalah kewaijban dan tanggungjawab moral setiap orang dalam berperilaku di masyarakat.

Secara etimologis, kata etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu “Ethikos” yang artinya timbul dari suatu kebiasaan. Dalam hal ini etika memiliki sudut pandang normatif dimana objeknya adalah manusia dan perbuatannya. Ada juga pendapat para ahli. Menurut Soergarda Poerbakawatja, pengertian etika adalah suatu ilmu yang memberikan arahan, acuan, serta pijakan kepada suatu tindakan manusia. Drs. H. Burhanudin Salam berpendapat, etika adalah sebuah cabang ilmu filsafat yang membicarakan perihal suatu nilai-nilai serta norma yang dapat menentukan suatu perilaku manusia ke dalam kehidupannya. Sedangkan menurut Poerwadarminto, etika adalah ilmu pengetahuan tentang suatu perilaku atau perbuatan manusia yang dilihat dari sisi baik dan buruknya yang sejauh mana dapat ditentukan oleh akal manusia.

Masih banyak lagi pendapat para ahli, dapat disimpulkan etika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan perilaku dan bersumber dari akal dan berbeda dengan norma-norma lainnya. Terdapat beberapa karakteristik etika yang membedakannya dengan norma lainnya. Adapun ciri-ciri etika adalah sebagai berikut:

  • Etika tetap berlaku meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan.
  • Etika sifatnya absolut atau mutlak.
  • Dalam etika terdapat cara pandang dari sisi batiniah manusia.
  • Etika sangat berkaitan dengan perbuatan atau perilaku manusia.

Dengan demikian, selain sebagai norma yang terlihat pada perilaku, etika juga harus melekat/dijiwai oleh manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial/bermasyarakat dan di tempat kerja.

Apakah sekarang terjadi pergeseran etika?

Banyak orang berpendapat, saat ini terdapat krisis etika. Etika yang dianggap mulai luntur diantaranya norma-norma kesopanan yang lambat laun terasa berkurang dibandingkan dengan jaman beberapa dasawarsa yang lalu. Sebagai contoh pada masyarakat Jawa, penggunaan bahasa jawa ngoko, kromo alus, kromo inggil dahulu demikian tertib. Yang lebih muda sebisa mungkin menggunakan bahasa kromo kepada yang lebih tua tanpa memandang status sosial, jabatan, kekayaan dan sebagainya. Norma-norma itu sekarang dianggap bergeser. Perubahan teknologi dan pembauran budaya dari berbagai daerah/negara juga bisa menjadi penyebabnya. Sebagai contoh, dulu saat kita bertemu yag lebih tua, secara spontan kita akan menundukkan kepala kita sebagai tanda hormat. Sekarang norma-norma lambat laun mulai berkurang, kalau tidak bisa dikatakan hilang.

Pergeseran tersebut sebenarnya tidak bisa disimpulkan sebagai penurunan kualitas etika. Di Indonesia sendiri etika bermasyarakat merupakan aturan tidak tertulis yang terdapat/melekat pada ajaran agama, adat istiadat, budaya daerah yang sangat beragam. Di jenjang pendidikan sekolahpun, etika tidak diajarkan secara khusus, tapi melekat pada beberapa mata pelajaran. Seharusnya tanpa perlu diajarkan, etika sudah menjadi jati diri pada probadi manusia yang beragama yang hidup di tengah keluarga dan di tengah masyarakat, tanpa harus mempelajari norma-norma apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Bagaimana etika di tempat kerja

Pada berbagai profesi dan instansi, pengaturan etika dibuat/diserahkan kepada lembaga profesi dan instansi. Hal tersebut karena etika dan perilaku bisa spesifik pada berbagai profesi, sehingga perlu dibuat secara khusus sesuai profesi dan instansi masing-masing. Pada Kementerian Keuangan terdapat Kode Etik dan Kode Perilaku yang merupakan pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan pegawai dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta pergaulan hidup sehari-hari yang bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan pegawai, bangsa, dan negara.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor Nomor 190/PMK.01/2018 Tentang Kode Etik Dan Kode Perilaku Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Keuangan, dalam berperilaku sehari-hari, setiap Pegawai harus berlandaskan pada nilai-nilai dan Kode Etik dan Kode Perilaku. Hal tersebut juga mengantisipasi adanya perubahan teknologi, nilai etika, budaya, dan perilaku yang terjadi di masyarakat, maka untuk mencegah pelanggaran disiplin pegawai Kementerian Keuangan, serta menjaga martabat dan kehormatan masing-masing pegawai. Hal tersebut bisa dipahami selain sebagai pedoman berperilaku sebagai pegawai Kementerian Keuangan juga sebagai antisipasi adanya perubahan teknologi, nilai etika, budaya, dan perilaku yang terjadi di masyarakat agar Nilai Nilai Kementerian Keuangan tetap terjaga.

Nilai-Nilai Kementerian Keuangan meliputi: a. Integritas, yang berarti seluruh Pegawai harus berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta selalu memegang teguh Kode Etik dan prinsip-prinsip moral; b. Profesionalisme, yang berarti seluruh Pegawai harus bekerja dengan tuntas dan akurat berdasarkan kompetensi terbaik dan penuh tanggung jawab serta komitmen yang tinggi; c. Sinergi, yang berarti seluruh Pegawai harus berkomitmen untuk membangun dan memastikan hubungan kerjasama internal yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas; d. Pelayanan, yang berarti seluruh Pegawai harus memberikan pelayanan untuk memenuhi kepuasan para pemangku kepentingan dan dilaksanakan dengan sepenuh hati, transparan, cepat, akurat, dan aman; dan e. Kesempurnaan, yang berarti seluruh Pegawai harus senantiasa melakukan upaya perbaikan di segala bidang untuk menjadi dan memberikan yang terbaik.

Dengan adanya landasan perilaku pegawai yang didasarkan pada nilai-nilai serta Kode Etik dan Kode Perilaku diharapkan bisa mewujudkan aparat pemerintah yang bersih, berwibawa, dan bertanggung jawab. Kode Etik dan Kode Perilaku tersebut tentunya buka sekedar dibaca dan dihapalkan tetapi harus diterapkan, dilaksanakan dan diejawantahkan dalam perilaku setiap pegawai, tidak hanya di tempat kerja tetapi juga di keluarga dan di kehidupan bermasyarakat.

Setiap pegawai adalah pemimpin, harus mampu menggerakkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya untuk selalu melaksanakan landasan perilaku tersebut. Falsafah kepemimpinan “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani rasanya masih relevan diterapkan saat ini, Di depan menjadi panutan atau contoh, di tengah menjadi penyemangat atau penyeimbang, dan di belakang memberi dorongan.

Apabila dicermati dari Peraturan Menteri Keuangan Nomor Nomor 190/PMK.01/2018 Tentang Kode Etik Dan Kode Perilaku Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Keuangan, secara luas mengatur etika dan perilaku pegawai, sanksi apabila melanggar, mekanisme pemberian sanksi, sesuai tujuan akhirnya yaitu menjaga martabat dan kehormatan pegawai, bangsa, dan negara. Setiap pegawai Kementerian Keuangan harus memahami dan mematuhinya. (Arief Nugroho/Kanwil DJKN Kalselteng)