Dari berbagai pernyataan di atas yang menunjukkan keindahan atau segi estetika karya seni adalah

Karya seni rupa tiga dimensi memiliki nilai-nilai estetis. Sumber: Pexels.com

Seni rupa merupakan sebuah cabang seni yang dalam proses pembentukan karyanya menggunakan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan.

Berdasarkan dimensi atau ukuran, karya seni rupa dibagi menjadi dua yaitu karya seni rupa dwimatra (dua dimensi) dan trimatra (tiga dimensi).

Karya seni rupa dua dimensi adalah bentuk karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang dan lebar serta dilihat dari arah depan saja seperti lukisan dan gambar.

Karya seni rupa tiga dimensi adalah bentuk karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang, lebar dan ketebalan atau ketinggian serta dapat dilihat dari berbagai arah, contoh seni patung, seni pahat dan sebagainya.

Seperti halnya karya seni lainnya, karya seni rupa tiga dimensi tentunya memiliki nilai estetis. Simak penjelasan mengenai nilai estetis yang dimiliki oleh karya seni rupa 3 dimensi.

Seni rupa tiga dimensi adalah sebuah kesenian yang menghasilkan karya yang tidak dibatasi tidak hanya dengan sisi panjang dan lebar, tetapi juga dibatasi oleh kedalaman dan tinggi.

Secara sederhana, seni rupa tiga dimensi adalah jenis kesenian yang menghasilkan karya seni yang memiliki ruang. Unsur ruang inilah yang menjadi pembeda antara karya seni tiga dimensi dengan karya seni rupa 2 dimensi.

Contoh-contoh karya seni rupa tiga dimensi ialah patung, keramik, bangunan, karya kriya, dan sebagainya.

Patung merupakan salah satu karya seni rupa tiga dimensi. Sumber: Pixabay.com

Mengutip dari buku Analisa Karya Seni Rupa Tiga Dimensi karya Winna Mardani, M.Pd dan Ary Trisna Oktavierasasi M.Sn, seni rupa tiga dimensi memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Karya seni murni, yaitu sebuah karya seni yang dibuat mengutamakan hanya pada unsur keindahan, seperti monumen, patung, dan lainnya

  • Karya seni terapan adalah karya seni yang dibuat mengutamakan nilai pakai atau fungsi kegunaannya, seperti tikar, anyaman, lampu hias, kotak tisu, kursi rotan, dan sebagainya.

Nilai Estetis Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Nilai estetis subjektif didasari selera penikmat seni. Sumber: Pexels.com

Karya yang dihasilkan oleh seni rupa 3 dimensi tentunya memiliki beberapa nilai keindahan atau estetis di dalamnya. Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa dapat bersifat objektif dan subjektif.

Keindahan suatu karya seni jika dilihat menggunakan pendekatan objektif akan berfokus pada wujud karya seni itu sendiri atau dalam artian suatu keindahan karya seni yang tampak kasat mata.

Nilai estetis objektif akan melihat keindahan suatu karya seni rupa tersusun dari komposisi baik, perpaduan warna yang pas, penempatan objek yang membentuk kesatuan dan keseimbangan, dan lain-lain.

Nilai subjektif adalah nilai keindahan yang dimiliki suatu karya seni, yang tidak hanya fokus pada unsur-unsur fisik yang diserap oleh mata secara visual, tetapi juga ditentukan oleh selera penikmatnya atau orang yang melihatnya.

Oleh karena itu, nilai estetis ini disebut sebagai nilai subjektif karena akan menghasilkan penilaian mengenai keindahan suatu karya seni yang berbeda-beda karena perbedaan preferensi dan selera yang dimiliki oleh para penikmat seni.

Art Work by :

MixoLydian PurWanto 

Judul : ” Crime / Kriminal “

Acrylic on Glass / Mirror 

● Seni

Pembelajaran seni rupa, selain berkaitan dengan masalah seni, juga berkenaan dengan masalah kegiatan berkesenian di masyarakat dan pendidikan. Sedangkan kegiatan berkesenian bukan hanya berlangsung secara praktik, tetapi harus juga didukung secara teoritik. Artinya kegiatan berkesenian harus ditunjang pula dengan teori atau pemikiran. Oleh karena itu perlu dilengkapi dengan kerangka teoritik tentang konsep seni rupa secara umum dan ketrampilan secara khusus. Sehingga modul ini diharapkan bermanfaat bagi calon guru maupun pengajar seni rupa. Modul seni rupa ini diharapkan dapat melengkapi referensi tentang seni rupa yang telah ada.

Seni rupa merupakan seni yang mempelajari tentang kebentukan dan bersifat visual, dapat diciptakan secara praktik dan dengan dukungan pemikiran teoritik yang memadai. Praktik seni rupa di masyarkat tentunya harus diimbangi dengan wawasan secara teoritik. Seni rupa sebagai bagian dari seni yang hadir di dalam masyarakat dengan seni-seni yang lainnya, tentunya memiliki karakteristik yang berbeda.

Karakteristik seni rupa yang lebih menekankan pada kecakapan ketrampilan tangan serta di dukung dengan pengetahuan tentang konsep seni secara teori. Disamping bakat yang sudah ada dalam diri seseorang. Tetapi disisi lain keberadaan bakat juga tidak terlalu berperan, segala sesuatu dapat dipelajari termasuk kesenian tidak terkecuali seni rupa. Kecenderungan seorang dalam mendalami displin ilmu memang berbeda-beda, tetapi jika kecenderungan itu diasah maka akan menjadi tajam.

Pembelajaran seni rupa selain membahas tentang seni rupa secara teori, tentunya sebagai pendukung praktik seni rupa di masyarakat dan dunia pendidikan. Keseimbangan antara praktik dan teori sebagai penunjang pembelajaran seni rupa secara baik dan terarah. Artinya penciptaan seni rupa dilengkapi dengan konsep secara jelas baik praktik dan teori. Disamping itu pembuatan ketrampilan atau prakarya dapat juga dipraktikan di masyarakat atau dalam dunia pendidikan. Ketrampilan sebagai pendukung pembelajaran seni rupa baik di masyarakat atau di pendidikan.

Sebelum membahas seni rupa dan segala sesuatu mengenai seni rupa, ada baiknya mengetahui pengertian seni terlebih dahulu. Secara etimologi  kata seni berasal dari bahasa Latin, Genius atau Genie, yang berarti kemampuan luar biasa yang dibawa sejak lahir (manusia). Jadi akar kata seni dari kata genie yang kemudian diadaptasikan menjadi kata indonesia, menjadi seni. Secara harfiah kata seni berarti kemampuan luar biasa dalam mengolah atau memikirkan sesuatu. Sering kita dengar pendapat orang awam, bahwa seni itu sulit, hanya orang tertentu, butuh bakat, ketrampilan dan lain-lain. Mungkin pendapat itu ada benarnya juga, ketika menciptakan seni itu memang tidak mudah butuh ketrampilan dan ketekunan yang luar biasa.

Seni juga dikaitkan dengan ketrampilan atau teknik dalam menciptakan sesuatu. Hal ini senada dengan definisi kata seni yang lain, yaitu dari kata Ars dari bahasa latin juga. Kata Ars mempunyai makna harfiah ketrampilan atau kemahiran. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani mengartikan kata Ars ini denganTechne yang artinya sama dengan kata arsyaitu ketrampilan. Kemudian kata Techneyang kita kenal sekarang dengan istilah Teknik. Jadi sudah jelas seni itu membutuhkan teknik dan ketrampilan disamping bakat yang dimiliki oleh seseorang. Bakat itu akan muncul ketika di asah atau diolah untuk menciptakan seni dan ketrampilan lainnya.

Pengertian seni di atas masih  internal, dalam artian seni itu masih bersifat individual masih milik manusia seutuhnya. Seni tersebut masih berkutat pada manusia sebagai kreator dan benda seni ciptaannya yang disebut dengan karya. Sedangkan menurut para tokoh atau filsuf bahwa seni itu merupakan kegiatan manusia dan bersifat sosial. Berikut akan dikutip pemikiran-pemikiran dari beberapa tokoh :

Seni adalah suatu kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantara tanda-tanda lahiriah tertentu menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayati kepada orang lain sehingga orang lain ikut merasakan perasaan-perasaan yang ia (pencipta) alami.

Dari pemikiran tersebut dapat dikatakan bahwa seni merupakan mediator komunikasi antar manusia. Adanya pemindahan perasaan (transfer of feeling) dari si seniman atau sang pencipta kepada manusia lain yaitu para penikmat, audiens, apresiator.

Jadi segala kegiatan manusia yang didalamnya terkandung unsur berupa kecerdasan, emosional, bakat, ketrampilan dll, untuk menghasilkan sebuah karya seni. Dan disamping itu dalam karya seni tersebut terkandung nilai, atau perasaan dari sang seniman. Sebagai contoh sebuah karya seni lukis yang menggambarkan penderitaan seseorang, disini bukan hanya seniman yang merasakan, tetapi juga orang lain ikut merasakan juga. Begitu juga dalam pementasan drama, menampilkan suasana yang sedih dan mengharukan, maka secara tidak langsung para audiens akan ikut merasakan suasana tersebut.

Seni menurut Thomas Munro adalah alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.

Jadi menurut pendapat filsuf Amerika ini, bahwa seni  itu lebih menekaknkan pada sifat bentuk atau benda. Karena dalam pernyataannya disebutkan bahwa seni adalah Alat buatan manusia. Sehingga dapat disimpulkan seni itu bersifat nyata, berwujud, kebendaan.

Jadi menurut pengertian tersebut di atas, seni itu adalah alat yang menimbulkan efek psikoogis. Jadi efek-efek psikologis mencakup tanggapan-tanggapan yang berupa pengamatan, pengenalan, penghayatan, dan imajinasi. Jadi menurut pengertian tersebut apabila kita sedang melihat sebuah lukisan yang menceritakan suatu peperangan yang dramatis atau perang yang sadis, maka kita tidak cukup hanya melihat objek lukisan tersebut. Kita dituntut untuk menyelami dan ikut merasakan, tanggapan kita harus sampai pada titik dimana objek dalam lukisan tersebut. Pengalaman seperti apa ketika melihat objek yang dialami dalam lukisan perang tersebut. Misalnya betapa paniknya, takut, kacau, gelisah, dalam lukisan perang tersebut. Itulah efek-efek psikologis yang ditimbulkan dalam sebuah karya seni, sehingga karya seni tersebut dapat dikatakan berhasil.

Menurut tokoh yang satu ini berpendapat, bahwa seni adalah kegiatan  rohani manusia yang merefleksikan kenyataan dalam suatu karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya (apresiator, audiens). Menurut pendapat tokoh yang satu ini, bahwa seni intinya adalah kegiatan yang bersifat rohani atauinner, walaupun bentuk karya seni dapat dilihat dan diraba tetapi yang lebih utama adalah sifat yang ditimbulkan dari suatu karya tersebut.

Jadi dengan kata lain, seni adalah sesuatu yang dapat membangkitkan pengalaman bagi orang yang melihatnya, apabila tidak menimbulkan pengalaman bagi yang melihatnya maka tidak dapat dikatakan seni. Jadi sesuatu karya tersebut dapat menimbulkan pengalaman. Dalam hal ini pengalaman seperti apa? Ketika kita melihat atau mendengarkan karya seni kita tentunya mendapatkan pengalaman. Pengalaman yang didapatkan seperti pengalaman keindahan, keunikan, keselarasan, kenyamanan, estetika, etika, dan juga moral. Jadi tidak semua benda dapat menimbulkan pengalaman di atas, sehingga benda itu tidak dapat dikatakan benda seni atau karya seni.

Menurut Soedarso Sp, bahwa seni adalah segala kegiatan manusia yang   mengutarakan pengalaman batinnya, yang disajikan secara unik dan menarik, sehingga menimbulkan pengalaman batin pada orang lain yang menghayatinya.

Soedarso Sp, berpendapat bahwa seniman atau kreator mencipta sebuah karya seni berdasarkan pengalaman yang ada pada dirinya sendiri. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, sehingga ketika seseorang itu menciptakan karya seni akan mempunyai karakter sendiri. Dan tidak semua yang diciptakan mempunyai nilai seni, menurut pendapat di atas suatu benda yang memiliki nilai seni adalah yang unik (artistik) dan menarik (estetika). Sehingga benda yang memiliki dua nilai di atas secara tidak langsung akan menimbulkan pengalaman batin pada orang yang menghayatinya. Jadi bentuk karya yang non seni atau yang dapat disebut industri tidak menimbulkan pengalaman batin pada orang yang menggunakan nya. Dikarenakan bentuk industri lebih menekankan pada nilai praktis dan kegunaan.

Dari semua pernyataan  di atas, intinya semua sama dalam menguraikan pengertian seni. Disini dapat disimpulkan bahwa Seni merupakan kegiatan manusia yang dapat berupa gerak, suara, kebendaan, dan mempunyai nilai artistik dan estetika, sehingga menimbulkan efek pengalaman secara psikologis, rohani, batin, pada orang yang melihatnya. Maka dari itu dapat dipahami, tidak semua kegiatan manusia itu merupakan seni adakalanya kegiatan manusia itu kegiatan yang biasa saja. Karena seni itu idealnya mempunyai nilai estetika atau keindahan. Tetapi apakah semua keindahan itu ada pada seni? Selanjutnya apakah keindahan ada pada objek? Atau sebaliknya keindahan itu terletak pada subjek yang melihatnya?. Selanjutnya akan dibahas mangenai keindahan, karena sering kali terjadi benturan mengenai seni dan keindahan. Sering terjadi salah pengertian antara seni dan keindahan, sebenarnya antara seni dan keindahan itu berdiri sendiri. Hanya saja seni sering diidentikan dengan nilai keindahan.

Manusia pada umumnya senang pada sesuatu yang indah, baik terhadap keindahan alam maupun keindahan terhadap seni. Keindahan alam adalah keharmonisan yang menakjubkan dari hukum-hukum alam, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk menerimanya. Sedangkan keindahan dalam seni adalah keindahan hasil buatan manusia, yaitu seorang seniman (kreator) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah, yaitu sebuah karya seni. Dalam konteks ini yang akan dibahas adalah keindahan dalam seni. Yaitu keindahan yang diciptakan atau ditimbulkan oleh manusia itu sendiri.

Rata-rata manusia mengalami persepsi keindahan dalam melihat suatu benda, sehingga yang timbul adalah sikap terpesona, damai, tenang dll. Tetapi tidak semua orang memiliki kepekaan dalam keindahan, tetapi pada umumya semua manusia memiliki perasaan keindahan. Sebelum membahas lebih jauh mengenai keindahan dalam seni, akan dibahas terlebih dahulu mengenai teori tentang keindahan.

Keindahan sudah lama diperdebatkan oleh para filsuf, sejak zaman Yunani keindahan sudah mulai dikaji. Apakah keindahan itu ada dalam diri manusia atau keindahan itu ada pada benda yang dilihat oleh manusia. Ada banyak batasan yang diberikan pada kita, mengenai definisi keindahaan yang obyektif. Keindahan dalam seni telah menarik banyak para filsuf, para filsuf banyak berteori tentang keindahan. Mengenai batasan tentang keindahan, keindahan umumnya di bagi menjadi dua.

  1. Keindahan bertumpu pada objek (keindahan yang objektif).
  2. Keindahan bertumpu pada pada subjek (keindahan yang subjektif).

Yang disebut dengan keindahan Objektif adalah keindahan yang memang ada pada sebuah  objek seni, yang memang harus diterima sebagaimana mestinya. Sedangkan keindahan Subjektif adalah, nilai keindahan yang biasanya ada pada subjek (orang) yang mengamati benda seni, keindahan timbul dari orang yang menghayatinya. Jadi nilai suatu keindahan itu terletak pada benda dan juga pada subjek yang mengamatinya. Perdebatan ini masih terus berlanjut dimana para filsuf masih memperdebatkan masalah keindahan ini. Setiap pemikir mempunyai pemikiran sendiri-sendiri dalam menafsirkan keindahan. Berikut akan di kutip pemikiran dari para filsuf sebagai komparasi atas penafsiran keindahan. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa diantaranya :

a) Plato 

Filsuf Yuanani kuno, yang hidup kira-kira 427-374 sebelum Isa Al Masih, berkeyakinan bahwa keindahan itu dalam pernyataan gagasan dari pikiran yang murni,yang tidak mungkin diharapkan ada atau muncul sepenuhnya di muka bumi atau alam semesta ini. Menurut Plato, keindahan itu mungkin  saja berkilas jelas dalam kebenaran-kebenaran yang ditemukan melalui logika. Bagi Plato, pengalaman keindahan tidak bergantung pada senang atau tidak senangnya seseorang atau pribadi-pribadi pada subyek artistik, melainkan terletak pada pemahaman intelektual terhadap subyek artistik tersebut.

b)Hebert Read.

Keindahan adalah suatu hubungan-hubungan yang formal dari pengamatan yang dapat menimbulkan rasa senang. Atau dapat dikatakan bahwa keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih pada subyek yang melihatnya, dan bertumpu pada ciri-ciri yang terdapat pada obyek yang dimatinya sesuai dengan rasa senang itu.

c)Leo Tolstoy.

Dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan keindahan yaitu “krasota” yang artinya sesuatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bagi bangsa Rusia tidak mempunyai pengertian secara audio, atau pendengaran, bagi bangsa Rusia indah adalah apa yang dapat dilihat dengan mata. Jadi menurut Leo Tolstoy, keindahan itu adalah suatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihatnya.

d)Alexander Baumgarten.

Keindahan itu dipandang sebagai keseluruhan yang merupakan susunan teratur dari bagian-bagian, yang bagian itu erat hubungannya satu dengan yang lain, juga keseluruhannya.

e)Shaftesbury. 

Yang indah itu adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Yang indah adalah yang nyata dan yang nyata adalah yang baik.

f)Emmanuel Kant.

Kant  meninjau keindahan dari dua segi. Pertama dari segi subjektif dan yang kedua dari segi objektif : 

● Keindahan Subjektif : Keindahan adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa rasa sangkut paut dengan kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.

● Keindahan Objektif : Keserasian dari suatu objek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh objek ini tidak ditinjau dari segi nilai gunanya.

g)Al- Ghazzali.

Menurut Al-Ghazzali, keindahan suatu benda terletak dalam perwujudan dari kesempurnaan, yang dapat dikenali kembali sesuai dengan sifat benda tersebut. Bagi setiap benda intinya mempunyai karakteristik tersendiri, dan kerekter itu membedakan dengan benda lain. Dan menurut Al-Gazzali keindahan dapat diserap melalui panca indera kita, karena indera itu dapat merasakan berbagai cita rasa. Disamping lima rasa (alat) untuk menyerap nilai keindahan tersebut. Al-Gazzali juga menambahkan rasa yang keenam, yang disebutnya dengan “jiwa” (ruh, yang disebut juga dengan Spirit, Jantung, Pemikiran, Cahaya), yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam (Inner) yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama.

Dari bahasan di atas tersebut, keindahan sebagai pengertian mempunyai arti yang relatif, relatif berdasarkan subjek yang melihatnya. Para pemikir di atas mempunyai pemikiran yang berbeda-beda, ada yang menyatakan keindahan ada pada subjek dan juga sebaliknya. Maka dari itu dari semua rangkaian pernyataan di atas intinya, keindahan dibagi menjadi dua sebagaimana yang dinyatakan oleh Emmanuel Kant. Karena kajian tentang nilai keindahan sudah lama mulai diperdebatkan kurang lebih sejak jaman Yunani. Dan seiring dengan perkembangan pemikiran, maka keindahan di kelompokan tersendiri menjadi kajian yang khusus yang dikenal dengan istilah Estetika.

MixoLydian PurWanto ” Art of a Government ( Presented by Nusantara’99 ) Water Color on Canvas

Manusia lahir di dunia dianugrahi cipta dan rasa, dimana semua itu ada sebagai penuntun dalam hidup manusia. Cipta, manusia diberkahi dengan kemampuan untuk mencipta sesuatu yang berguna bagi kehidupan seluruh umat. Rasa, manusia dianugrahi perasaan atau kepekaan dalam merasakan seusuatu, kepekaan manusia terhadap nilai kehidupan hal ini pula yang membedakan dengan binatang atau hewan. Manusia memiliki sensibilitas estetis, karena manusia tidak dapat dilepaskan dari keindahan. Manusia membutuhkan keindahan dalam kesempurnaan (keutuhan) pribadinya.

Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan dari pengertian “estetika”. Aslinya kata estetika mempunai makna harfiah “teori tentang ilmu penginderaan”, yang sesuai dengan arti etimologisnya. Dimana etimologis kata estetika dari bahasa Yunani αισθητική, dibacaaisthetike, yang mengandung arti ilmu tentang hal yang dapat dirasakan dengan perasaan. Tetapi dalam perkembangannya kata estetika diberi pengertian yang dapat diterima secara lebih luas ialah “teori tentang keindahan dan seni”.

Dahulu estetika dianggap sebagai suatu cabang filsafat, sehingga memiliki arti sebagai sinonim dari “filsafat seni”. Tetapi dalam perkembangannya sejak akhir abad 19, dimana pada waktu itu berkembang gejala atau faham yang lebih menekankan pada sifat-sifat empirisme. Hingga pada abad tersebut munculah filsuf yang pertama mengenalkan estetika sebagai salah satu disiplin ilmu, yaitu Alexander Gottlieb Baumgarten (1735). Baumgarten mengkhususkan penggunaan estetika untuk teori tentang keindahan artistik, karena ia berpendapat seni sebagai pengetahuan perseptif. Oleh karena itu Baumgarten menganggap bahwa estetika adalah sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.

Nilai suatu keindahan dapat dirasakan oleh setiap manusia, karena nilai indah itu bersifat universal. Setiap manusia mempunyai potensi untuk “merasakan” keindahan, bahkan terhadap keindahan yang sama sekalipun. Berikut ini akan di jelaskan beberapa pendapat tentang substansi dari nilai keindahan. Bagaimana keindahan itu timbul dan dapat dirasakan oleh manusia, Berikut beberapa pendapat mengenai substansi keindahan dalam kajian estetika.

Nilai indah itu ada karena memang objek itu sendiri memang indah. Keindahan itu timbul karena pengaturan yang rapi dan teratur, komposisi yang serasi antara pendek dan tinggi, atau mungkin pengaturan warna-warna, komposisi bentuk pada suatu objek dan pengaturan yang lainnya. Pertimbangan seperti ini menunjukan bahwa substansi indah itu ada pada diri objek itu sendiri, yang sekaligus tangkapan rasio. Dan keindahan ini hanya dirasakan oleh manusia yang mempunyai akal sehat dalam artian yang mempunyai kewarasan.

Teori ini berpendapat bahwa nilai indah itu sebenarnya adalah ungkapan perasaan. Apa yang dilihat hanyalah sebagai penyulut dari pengungkapan perasaan itu. Maka hakikat nilai indah bukanlah pada objek, tetapi pada subjek yang perasaannya terungkap. Hanya orang-orang yang memilki kehalusan perasaan, yang mempunyai kepekaan terhadap nilai indah.

Menyatakan bahwa nilai indah itu merupakan kenikmatan yang diobjektivikasikan. Maksudnya adalah terbuktinya rasa nikmat itu dalam pengalaman. Bagi pendapat ini, kenikmatan yang sebenarnya adalah kenikmatan keindahan yang teralami dalam kehidupan bukan hanya angan-angan.

Pendapat ini menyatakan bahwa nilai indah itu adalah nilai suatu keberhasilan dari suatu proses pengalaman yang panjang. Maka nilai indah itu tidaklah bersifat tiba-tiba, tetapi ada proses pengalaman sampai akhirnya keberhasilan itu dapat dicapai.

Bahwa nilai indah itu terkait dengan pertimbangan-pertimbangan metafisik atau teologis-religius. Atau ada yang mengatakan sebagai estetika spritualis, yang mengajak pada pengakuan akan kebesaran Ilahi.

Itulah beberapa teori yang mencoba mendifinisikan apa sebenarnya nilai keindahan, dan bagaimana keindahan itu muncul. Dan dalam perkembangan pemikiran generasi selanjutnya, tidak menutup kemungkinan muncul pendapat yang baru mengenai keindahan. Tetapi dari beberapa pendapat atau teori di atas, menujukan bahwa betapa keindahan itu merupakan persoalan yang menarik dan tidak sederhana.

Bahasan di atas masih dalam konteks keindahan secara umum, dalam artian keindahan itu ada dalam diri manusia dan di alam semesta. Keindahan belum merambah ke dalam bentuk karya seni, dalam persoalan estetika nilai keindahan terus di teliti dan di gali. Para pemikir dan filsuf terus menggali dan mencoba berpendapat tentang keindahan. Berikut akan dikutip salah satu pemikir, yang berteori tentang nilai keindahan dalam karya seni.

Berikut akan dikutip dari pemikiran Witt H. Parker, dalam sebuah bukunya The Analisys of Art, yang memeras ciri-ciri umum dari bentuk estetik menjadi 6 asas, antara lain :

  1. The Principle of Organic Unity (Asas kesatuan organis)

Asas ini berarti setiap unsur dalam karya seni adalah perlu bagi nilai karya itu sendiri. Nilai suatu karya sebagai keseluruhan tergantung pada hubungan timbal balik dari unsur-unsurnya yakni setiap unsur memerlukan, menanggapi dan menuntut setiap unsur lainnya. Pada masa lampau asas ini disebut  kesatuan dalam keanekaan (unity in variety). Ini merupakan  asas induk yang membawakan asas-asas lainnya.

  1. The Principle of Theme (Asas tema).

Dalam setiap karya seni terdapat satu (atau beberapa) ide induk atau peranan yang unggul berupa apa saja (bentuk, warna, pola, irama, tokoh atau makna) yang menjadi titik pemusatan dari nilai keseluruhan karya itu. ini merupakan  kunci bagi penghargaan dan pemahaman orang terhadap karya seni itu.

  1. The Principle of Thematic Variation (Asas variasi menurut tema).

Tema dari sesuatu karya seni harus disempurnakan dan diperbagus dengan terus-menerus mengumandangkannnya. Agar tidak menimbulkan kebosanan, pengungkapan tema harus tetap sama itu perlu dilakukan dalam berbagai variasi.

  1. The Principle of Balance (Asas keseimabangan).

Keseimbangan adalah kesamaan dari unsur-unsur yang berlawanan atau bertentangan. Dalam karya seni, walau unsur-unsurnya tampak bertentangan, tetapi sesungguhnya saling memerlukan karena bersama-sama mereka menciptakan suatu keutuhan. Unsur-unsur yang saling berlawanan itu tidak perlu hal yang sama, karena ini lalu menjadi kesatuan. Dengan kesamaan dari nilai-nilai yang saling bertentangan terdapatlah keseimbangan secara estetis.

  1. The Principle of Evoluiton (Asas Perkembangan).

Dengan asas ini dimaksudkan oleh Parker kesatuan dari proses yang bagian-bagian awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh. Jadi, misalnya dalam sebuah cerita hendaknya terdapat hubungan sebab akibat atau rantai tali temali yang perlu, yang ciri pokoknya berupa pertumbuhan atau perhimpunan dari makna keseluruhan.

  1. The Principle of Hierarchy(Asas Tata Jenjang).

Kalau asas-asas variasi menurut tema, keseimbangan dan perkembangan mendukung asas utama kesatuan organis, maka asas yang terakhir ini merupakan penyusunan khusus dari unsur-unsur dalam asas-asas termaksud. Dalam karya seni yang rumit, terkadang terdapat satu unsur yang memegang kedudukan yang penting. Unsur ini mendukung secara tegas tema yang bersangkutan dan mempunyai kepentingan yang jauh lebih besar ketimbang unsur lainnya.

Demikian 6 (enam) unsur yang menurut Witt H. Parker yang diharapkan menjadi unsur-unsur yang dapat dijadikan suatu logika tentang bentuk estetik. Memang sebuah karya seni harus mempertimbangkan aspek-aspek di atas, sebagai pendukung terciptanya sebuah karya seni yang baik dan sempurna. Dan karya seni yang mengandung unsur-unsur estetika di atas, maka akan mempunyai karakteristik tersendiri dan tentu saja karya seni tersebut indah. Dan lebih jauh James Yoyce dalam bukunya A Potrait of The Artist as a Young Man, mendefinisikan bahwa karya seni pada intinya mempunyai tiga karakteristik dalam wujudnya, yaitu :

  1. Integritas.
  2. Harmoni.
  3. Individuasi.

Integritas adalah ketunggalan atau kesatuan yang padu dari semua unsur dan bagian-bagiannya, yang masing-masing berfungsi membangun wujudnya. Jadi integritas bukan sekedar kumpulan dari bagian-bagian tanpa hubungan fungsional dalam mewujudkan bentuknya.

Harmoni atau keselarasan adalah  proporsi dan hubungan atau pertalian yang tepat dari bagian-bagian. Sebab dalam karya sebuah karya seni memang ada berbagai macam unsur yang saling mengisi, maka dari itu harus keberaturan.  Karena adanya sifat-sifat yang saling bertenatangan namun harus dapat dicapai suatu keseimbangan dan kestabilan yang dinamis bagi penghayatnya. Sedangkan yang dimaksud individuasi adalah suatu keunikan tertentu, yang berarti bahwa keindahan cipta seni dan budaya tak dapat dipertukarkan dengan keindahan ciptaan lain. Maksudnya adalah setiap hasil karya seni dan budaya memang mempunyai kesamaan secara universal, tetapi kausal atau muasal bentuk kejadiannya adalah spesifik dan juga unik. Jadi setiap karya seni yang lahir didasari dengan latar belakang yang berbeda, sehingga ketika karya seni itu lebih spesifik dan mempunyai ciri yang khas.

Dari semua bahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keindahan sebagai pengertian yang relatif, relatif berdasarkan subjeknya atau yang melihatnya. Oleh karena keindahan itu relatif, maka sebaiknya meninjau seni tanpa sangkut pautnya dengan keindahan. Karena keindahan itu tidak hanya pada karya seni, keindahan ada pada alam semesta, pada ucapan, moral, dan perbuatan. Hanya saja sifat relatif dalam menyerap dan merasakan nilai keindahan berbeda-beda, hal ini dikarenkan tidak semua manusia mempunyai kadar persepsi yang sama. Kiranya hal ini berhubungan dengan cita rasa yang sebagian besar mungkin merupakan  hasil dari konvensi atas lingkungan kita masing-masing daripada hasil persepsi yang aktual. Mungkin banyak perbedaan dalam meresapi sebuah keindahan, karena memang manusia mempunyai kapasitas yang berbeda. Dan dalam hubungan nya dengan keindahan, perlu ditekankan bahwa Allah itu Maha Indah, dan mencintai Keindahan.

MixoLydian PurWanto ArtStudio

Semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih.