Berasal dari manakah olahraga beladiri pencak silat?

Sejarah Pencak Silat (Sumber: Pencaksilat.co)

Seni bela diri pencak silat berasal dari Indonesia. Salah satu ciri khas yang dimiliki oleh pencak silat adalah gerakannya yang terlihat seperti tarian.

Pencak silat berasal dari dua kata, yaitu “pencak” dan “silat”. Istilah silat sendiri dikenal secara luas di Asia Tenggara, di mana kata pencak digunakan di Indonesia, khususnya Jawa. Sementara itu, kata silat digunakan di Sumatera, Semenanjung Malaya, dan Kalimantan.

Istilah “pencak” kemudian berkembang dengan mengedepankan unsur seni dan penampilan keindahan gerakan. Sementara itu, silat adalah inti dari ajaran bela diri.

Awalnya, pencak silat berkembang dari keterampilan suku asli Indonesia dalam berburu dan perang dengan menggunakan alat perang, seperti parang, perisai, dan tombak.

Sejarah Pencak Silat (Sumber: Metrum)

Ada pendapat yang menyebutkan, bahwa bela diri adalah kemampuan nenek moyang untuk mempertahankan kehidupan dari tantangan alam. Biasanya, mereka menirukan gerakan binatang, seperti kera, harimau, ular, atau burung elang.

Keterampilan bela diri juga berkembang dari suku di Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan berbagai senjata, seperti parang, tombak, dan perisai. Misalnya, suku Nias, tradisi di sana dipercaya tidak tersentuh budaya luar hingga abad ke-20.

Seorang peneliti silat bernama Donald F. Draeger mengatakan, bukti adanya seni bela diri terlihat dari artefak senjata yang ditemukan dari pahatan relief di Candi Prambanan dan Borobudur, kemudian ada yang menunjukkan sikap kuda-kuda.

Menurut ahli sejarah, pencak silat pertama kali ditemukan di Riau pada zaman Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Setelah itu, menyebar ke Semenanjung Malaka dan Pulau Jawa. Pada abad ke-16, kerajaan Majapahit memanfaatkan pencak silat sebagai ilmu perang untuk memperluas wilayahnya.

Pada 1980, Perguruan PSN ISMD (Pencak Silat Nasional Ikatan Seni Membela Diri) Putra Setia oleh Al Habib Haji Muchtar Hasfulloh. Kemudian, masuk IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) dan diresmikan pada 28 Oktober 1988.

PSN ISMD Putra Setia memiliki beberapa cabang di Indonesia, yaitu Jakarta yang berpusat di Padepokan IPSI TMII. Lalu, ada juga yang berada di Jakarta Barat. Kemudian, para murid diajarkan berbagai jurus dan gerakan.

Tujuannya adalah untuk mendidik anak dalam yang positif sekaligus membantu mempertahankan diri sendiri dalam keadaan apa pun.

Berdasarkan sejarah pencak silat, dapat diartikan sebagai hasil budaya Indonesia untuk membela, mempertahankan eksistensi dan integritas terhadap lingkungan hidup, alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Sejarah Induk Organisasi Pencak Silat Indonesia

Ilustrasi Sejarah Pencak Silat (Sumber: Pixabay)

Mengutip dari situs IPSI, berikut ini adalah sejarah singkat IPSI:

1. Perhimpunan Pencak Silat Indonesia 1922

Usaha untuk menyatukan aliran perguruan pencak silat sebenarnya sudah dimulai sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya pada 1922 di Segalaherang, Subang, Jawa Barat.

Perhimpunan Pencak Silat Indonesia didirikan untuk menggabungkan aliran pencak silat Jawa Barat yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

2. Gabungan Pencak Mataram 1943

Pada masa kependudukan di era penjajahan Jepang, Presiden pertama RI Soekarno pernah menjadi pelindung. Ikhtiar serupa juga diadakan di kota Yogyakarta pada 1943, kemudian beberapa tokoh pendekar dalam pembentukan dari berbagai aliran pencak silat adalah:

  • R. Brotosoetarjo dari Budaya Indonesia Mataram.

  • Muhammad Djoemali dari Taman Siswa.

  • RM. Harimurti dari Krisnamurti.

  • Abdullah dari Pencak Kesehatan.

  • R. Soekiman dari Rukun Kasarasaning Badan.

  • Ali Purwarso dari Setia Hati.

  • Suwarno dari Setia Hati Terate.

  • R. Mangkupujono dari Persatuan Hati.

  • RM Sunardi Suryodiprojo dari Reti Ati.

Lalu, mendirikan organisasi yang bernama Gapema atau Gabungan Pencak Mataram untuk bersama-sama menggalang pencak silat yang tumbuh di Kesultanan Kerajaan Yogyakarta.

Gapema merupakan pasukan yang seluruh anggotanya adalah pendekar pencak silat yang turut berjuang dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

3. Gabungan Pentjak Seluruh Indonesia 1947

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1947 di kota Yogyakarta, berdiri satu organisasi bernama Gapensi (Gabungan Pentjak Seluruh Indonesia) yang bertujuan untuk menyatukan seluruh aliran perguruan pencak silat di seluruh Indonesia.

Gapensi didirikan oleh Muhammad Djoemali dari Taman Siswa bersama beberapa para tokoh aliran pencak silat, yaitu:

  • RM Soebandiman Sirdjoatmodjo dari aliran pencak silat Perisai Diri.

  • Ki Widji HArtani dari Prisai Sakti Mataram.

  • R Brotosoetajo dari budaya Indonesia mataram.

4. Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia 1948

PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) yang kemudian berganti nama menjadi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), mengadakan sebuah Konperensi Bagian Pentjak di Solo pada 2 Juni 1948.

Pertemuan tersebut sebelumnya diawali dengan rapat pembentukan Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia di Solo pada awal tahun 1947 yang diprakarsai oleh Mr Wongsonegoro, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan.

Pada hasil rapat ini, dibentuklah panitia IPSI (Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia) pada Mei 1947 yang diketuai oleh Mr Wongsonegoro. IPSI bernaung di bawah Kementerian Pembangunan dan Pemuda.

Pada masa kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya, beberapa perguruan yang ikut aktif dalam memperjuangkan keutuhan IPSI tersebut diberi istilah Perguruan Historis dan dijadikan Anggota Khusus IPSI. Mereka dipandang memengaruhi sejarah dan perkembangan IPSI serta pencak silat pada umumnya antara 1948 dan 1973.

Jadi, pencak silat berasal dari Indonesia, terutama di wilayah Jawa. Itulah sejarah beserta penjelasan mengenai perkembangan pencak silat di Indonesia.