Apakah yang dimaksud dengan konsep berpikir sinkronis dalam sejarah

Ilustrasi RMS. Foto: Kemdikbud

Konsep berpikir sinkronik dikenal dalam bidang kajian sejarah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian sinkronik artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan peristiwa yang terjadi pada suatu masa.

Kajian sejarah secara sinkronik artinya mempelajari peristiwa sejarah dengan segala aspeknya pada masa atau waktu tertentu dengan lebih mendalam. Lengkapnya, dapat dijelaskan bahwa konsep sinkronik mempelajari pola-pola, gejala, serta karakter dari suatu peristiwa sejarah pada masa tertentu.

Pendekatan sinkronis dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan ekonomi di Indonesia pada suatu waktu tertentu, menganalisis struktur dan fungsi ekonomi pada keadaan tertentu dan lain-lain. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang konsep berpikir sinkronik lengkap dengan cri-ciri dan contohnya.

Konsep Berpikir Sinkronik dan Cirinya

Secara sederhana, konsep berpikir sinkronik dapat dilakukan dengan memperluas ruang berpikir dan mempersempit waktu terjadinya. Dalam pola pikir sinkronik, peristiwa sejarah dipelajari dalam sudut pandang dan ruangan yang sama.

Ilustrasi cakrabirawa, sejarah Indonesia. Foto: kemdikbud

Pendekatan sinkronis ini mempelajari aspek pada kurun waktu terbatas yang memiliki sifat horizontal dan tidak memiliki konsep perbandingan. Mengutip buku Teori Linguistik: Beberapa Aliran Linguistik (2018) oleh Markhamah, dkk., konsep berpikir sinkronik memiliki ciri khusus yakni sebagai berikut:

  • Kerangka berpikir sinkronis mengamati kehidupan sosial secara meluas berdimensi ruang. Artinya, cara berpikir ini memperdalam pada ruang tertentu secara mendalam, tidak berdimensi waktu.

  • Konsep ini memandang kehidupan masyarakat sebagai sebuah sistem yg terstruktur dan saling berkaitan antara satu unit dengan unit yang lain.

  • Menguraikan kehidupan masyarakat secara deskriptif dgn menjelaskan bagian demi bagian

  • Menjelaskan struktur dan fungsi dari masing masing unit dalam kondisi statis

  • Digunakan oleh ilmu sosial, seperti geografis, sosiologi, politik, ekonomi, antropologi dan aerkeologi

Contoh Konsep Berpikir Sinkronik

Mengutip buku Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas X, berikut contoh konsep berpikir sinkronik dalam sejarah Indonesia:

Letkol untung dalam tragedi g30s/pki. Foto: kemdikbud

1. Keadaan Ekonomi di Indonesia pada 1998

Keadaan ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 sangatlah terpuruk. Terjadi kerusuhan di mana-mana. Bahkan Presiden Soeharto sampai mengundurkan diri.

Terdapat banyak hutang perusahaan dan negara yang jatuh tempo pada tahun 1998 yang membuat banyak perusahaan gulung tikar. Akibatnya, angka pengangguran meningkat pesat.

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat hingga Rp15.000,00 per Dollar Amerika Serikat membuat harga-harga barang meningkat pesat. Akibatnya, inflasi semakin tidak terkendali. Pendapatan per kapita Indonesia juga menurun drastis dari 1.155 USS/ kapita pada tahun 1996 menjadi 610 US$/kapita pada tahun 1998.

2. Suasana pada saat tragedi G3OS/PKI

Tragedi G30S/PKI terjadi pada tanggal 1 Oktober. Pada saat itu, terjadi penculikan dan pembunuhan 7 jendral tentara dan beberapa orang lainnya.

Soeharto pada saat itu diperintah untuk mengambil alih tentara dan menyelamatkan Soekarno. Kemudian Soekarno berhasil menuju istana presiden di Bogor. Soeharto bersama pasukan yang ia pimpin berhasil mengambil kontrol semua fasilitas yang sebelumnya direbut oleh pelaku G30S/PKI.

Tragedi G3OS/PKI. Foto: kemdikbud

3. Pembangunan pada era Orde Baru

Orde Baru adalah masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pembangunan Indonesia pada masa Orde Baru sangat pesat. Namun, angka korupsi juga meningkat.

Soeharto membuat program pembangunan jangka pendek yang disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Repelita I berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari rata-rata 3% menjadi 6,7% per tahun, meningkatkan pendapatan per kapita, dan menurunkan laju inflasi.

Bahkan pada tahun 1984 Indonesia berhasil mencapai swasembada beras, padahal pada tahun 1970-an Indonesia adalah negara pengimpor beras terbesar di dunia. Namun, pada masa ini terjadi kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah.