Apa yang dimaksud dengan musik sebagai bahasa universal

Meski orang jelas tidak bisa menerangkan sesuatu secara tepat-detail dengan ‘bahasa musik’ (Pak/Bu Guru tak bisa mengajarkan rumus ABC melalui genjrengan gitar di depan kelas, mis), semua orang akur kalau ‘Musik itu universal‘. Tulisan ini ingin sedikit menyelisik tentang itu.

*****

Fenomena anak kecil yang suka lagu asing (yang bahasanya tak mereka kuasai), ilustrasi musik film horor yang selalu berbeda dengan film komedi, irama ninabobo yang ‘bumi-langit’ dengan lagu ajojing.. Banyak hal membuktikan kalau musik itu universal—berlaku untuk semua orang, lintas bahasa/kultur/etnik dll (jika orang Kristen sembahyangnya nyanyi, orang Islam baca ayat dan azannya pakai ‘lagu’, mis). Meski benar, semua contoh tsb rasanya terlalu umum/generik.

Lebih enak cari contoh/pendekatan lain. Dua kasus saja. Yang pertama pengalaman kolektif nan spesifik Indonesia, yang kedua cara pandang terhadap sebuah aspek melekat dari musik.

Manusia butuh bahasa

Tahun 1997, saat Indonesia sedang hebat-hebatnya dilanda Krismon (krisis moneter), sebuah akapela (‘musik mulut’) dari negeri spageti menyeruak ke dalam blantika musik Indonesia..

Neri Per Caso – “Quello Che Vuoi” (Neri Per Caso, 1997)

Sekian bulan klipnya muncul di TV dan lagunya dilantunkan di radio (Jakarta), Quello Che Vuoi sudah menyapa banyak hati orang Indonesia—meski bahasa Itali kebilang bahasa alien di sini.

Sebuah prestasi yang juga pernah diukir oleh lagu non-Inggris lain seperti “Kokoro No Tomo” (Mayumi Itsuwa, 1983) dan lalu “Kuch Kuch Hota Hai” (Udit Narayan & Alka Yagnik, 1998) serta “Aserejé” (Las Ketchup, 2002) yang bahkan bikin gemes dunia dengan ‘bahasa semau gue’-nya.

Toh, “Quello Che Vuoi” tetap terasa spesial. Hadir pada masa sulit, lagu Neri Per Caso mantap menegaskan jika musik adalah kebutuhan naluriah. Kodrati. Seperti apa pun kondisinya dan tidak peduli bahasa/liriknya tidak bisa dimengerti, orang butuh musik (yang bagus, tentunya).

Fakta bahwa orang bisa suka-suara-biar-tak-paham-kata ini menunjukkan: ada ‘tempat-tempat’ (kepekaan, rasa keindahan, emosi) yang mampu dijangkau oleh musik—tanpa bantuan bahasa. Musik menembus sekat bahasa. Bahasa Batak milik orang Sumut, bahasa Tagalog milik orang Filipina (dst) tetapi musik adalah bahasa semua orang. Setiap insan. Apa pun ‘bahasa ibu’-nya.

Musik adalah sebuah bahasa—sekaligus kebutuhan, yang universal.

Alat musik universal

Kalau direken-reken, selain untuk makan dan bicara (+ senyum/ngesun dll), pada hakikatnya mulut manusia adalah juga sebuah ‘alat musik’. Bagi fans Quello Che Vuoi yang tidak paham bahasa Itali, yang diindra semata-mata adalah ‘bunyi’—bukan serangkaian ‘kata/lirik’ dengan makna linguistik tertentu. Secara prinsip, ini identik dengan mendengarkan instrumentalia:

Simply Three – “Rain” (Undefined, 2017)

Cuma beda di ‘alat’, kan? (Kalau pada Rain alat musiknya bas/selo/violin, pada Quello Che Vuoi alat musiknya ya sekian mulut para anggota akapelanya itu sendiri) Tetapi sama-sama musik(!) (Sebab sama-sama ‘tanpa bahasa’—seperti Kuch Kuch bagi fannya yang tak paham Hindi, gitu)

Sebagai ‘alat musik‘, mulut manusia luar biasa istimewa: satu-satunya yang Pemberian (untuk alat musik lain, manusia harus bikin sendiri), yang pertama di muka Bumi—mungkin bahkan di seluruh Alam Semesta (ada sebelum orang kepikiran untuk bikin alat musik), pun satu-satunya yang sekaligus jago bahasa (semua orang bisa ngomong)—alias—satu-satunya alat musik yang semua orang bisa ‘memainkannya’ (beda dengan piano/biola yang tak semua orang bisa, mis).

Dan yang terakhir itu artinya, mulut kita ini adalah alat musik yang paling universal(!) 🙂

*****

Mengingat biang alat musik—mulut ini, cuma bagian kecil dari sosok kita (manusia), mungkin asyik untuk mengulik hubungan antara keuniversalan musik dengan kemanusiaan (humanity). Tapi itu jelas terlalu serius untuk tulisan ringan awal tahun semacam ini hehe.. Jadi hayuk kita setop saja, pakai lagu—mulut melulu sudah, instrumen doang sudah, saatnya eksyen bareng..

Oya, sebelum semakin telat:

Selamat Tahun Baru

Mari jadikan lebih baik. Lebih universal. Lebih mendatangkan berkat-manfaat. Bagi semua.

⚛️ 🛐 🕉 ☸️ ✡️ ☦️ ✝️ ☪️ ☯️ ☮️

Apapun, rasanya kita semua akur, tidak perlu ngerti English atau Italiano untuk bisa menikmati (atau merasa tersentuh oleh) kolaborasi lintas-usia/trans-genre/antar-‘alat musik’ yang satu ini:

Luciano Pavarotti, Jon Bon Jovi et al. – “Let It Rain”
(Pavarotti & Friends for the Children of Liberia, 1998)

Che sia la pace il nome d’amore, signore.

————————————

CATATAN

Mungkin ada di antara Pembaca yang belum pernah dengar Quello Che Vuoi, klik link di atas, merasa suka, lalu membaca liriknya barang beberapa saat meski tidak tahu arti kata-katanya? Di satu sisi, ini instingtif. Di sisi lain, ini adalah bukti/dampak ‘kekuatan sebuah teks’, yang jadi benang merah di serial ‘senam literasi’—yang masih kurang dua tulisan lagi. (Iklan ni yee..!!)

Apa yg dimaksud musik sebagai bahasa universal?

Musik dapat dikatakan sebagai bahasa yang universal karena dapat diterima dan disukai oleh semua kalangan dan juga sebagai media ekspresi dan mampu menyatukan banyak kalangan masyarakat, baik kalngan bawah hingga kalangan paling atas. Musik memegang peranan di berbagai aspek kehidupan manusia.

15 musik bahasa universal apa yang dimaksud universal *?

Jawaban. bahwa musik adalah bahasa univeral disini ,artinya musik adalah bahasa yang dapat dikenal luas oleh masyarakat dengan mengerti bahasa lagu tersebut. ringkasnya, bahwa musik ini bahasanya menyeluruh / meluas.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan seni musik tradisional?

Musik tradisional adalah musik yang hidup di dalam masyarakat secara turun temurun dan tetap dipertahankan sebagai hiburan ataupun kegiatan keagamaan. Musik tradisional biasanya memiliki ciri khas yang beragam tergantung dari mana asal musik tersebut.

Apakah yang dimaksud dengan musik menurut pendapat anda?

Pengertian musik adalah suatu hasil karya seni berupa bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur pokok musik yaitu irama, melodi, harmoni, dan bentuk atau struktur lagu serta ekspresi sebagai suatu kesatuan.